
Rifan Financindo – Emas Turun Lagi, Pasar Masih “Goyang”
Emas melemah setelah dua hari menguat, karena trader mulai mengambil keuntungan di pasar yang masih labil pasca kejatuhan tajam akhir Januari. Pergerakan harga masih terkesan “bohong”, tanda pasar belum benar-benar menemukan pijakan yang nyaman.
Di awal perdagangan Asia, emas sempat turun sampai 1,4% dan kembali di bawah $5.000 per ons, sebelum memangkas sebagian penurunan. Meski begitu, jika ditarik sejak puncak 29 Januari, emas masih turun sekitar 10%—namun tetap lebih tinggi untuk kinerja sepanjang tahun ini.
Pembaruan terakhir, emas spot turun 0,8% menjadi $5.015,98 per ons pada 07:31 pagi waktu Singapura. Tekanan juga terasa di logam lain: perak turun 2,1% ke $81,64, sementara platinum dan paladium ikut melemah.
Fokus pasar sekarang mengarah ke data ekonomi AS pekan ini yang bisa mempengaruhi arah suku bunga The Fed. Laporan tenaga kerja Januari dijadwalkan rilis Rabu, disusul data inflasi Jumat—dua rilis yang biasanya langsung “mengguncang” dolar, imbal hasil, dan emas.
Cerita tambah panas setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh untuk memimpin bank sentral AS berikutnya. Di pasar yang masih sensitif, kombinasi data besar + isu kebijakan ini membuat emas mudah berubah arah—naik bisa cepat, tapi koreksi juga bisa datang secara tiba-tiba.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Naik Didorong Pelemahan Dolar, Data Jobs Jadi Fokus
Harga emas menguat pada Senin (9/5), terdorong pelemahan dolar AS di tengah sikap waspada investor jelang pekan yang padat rilis data ekonomi Amerika—mulai dari tenaga kerja hingga inflasi—yang berpotensi memberi petunjuk baru soal arah kebijakan suku bunga The Fed.
Di pasar spot, emas naik 1,9% ke $5.056,21 per ons pada pukul 13:35 ET, melanjutkan reli sekitar 4% sejak Jumat. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga ditutup naik 2% di $5.079,40 per ons.
Penguatan emas kali ini terutama ditopang oleh pelemahan dolar. Indeks dolar AS turun 0,8% ke level terendah lebih dari sepekan, membuat emas berdenominasi greenback menjadi lebih “murah” bagi pembeli luar negeri. “Penggerak terbesar hari ini adalah dolar AS,” kata Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, seraya menambahkan pasar mulai membangun ekspektasi data ekonomi yang cenderung lemah, terutama dari sisi tenaga kerja.
Pasar kini memusatkan perhatian pada rangkaian data AS pekan ini: nonfarm payrolls (NFP), inflasi (CPI), dan klaim pengangguran awal. Rangkaian data tersebut dinilai penting untuk membaca ruang gerak The Fed, apalagi pasar sudah mulai memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga 25 bps pada 2026. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, NFP Januari diperkirakan bertambah 70.000. Secara teori, suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung emas karena menurunkan “opportunity cost” memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Dukungan fundamental lain datang dari permintaan bank sentral. Data People’s Bank of China (PBoC) menunjukkan China memperpanjang tren pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari. Eugenia Mykuliak, Founder & Executive Director B2PRIME Group, menilai permintaan bank sentral yang konsisten—dengan China sebagai pusatnya—kini menjadi “penstabil” sekaligus barometer pasar, bahkan semakin membentuk “lantai struktural” bagi harga emas.
Di sisi logam mulia lain, perak melonjak lebih agresif. Harga perak spot naik 6,3% ke $82,86 per ons setelah menguat hampir 10% pada sesi sebelumnya. Perak sempat mencetak rekor sepanjang masa di $121,64 pada 29 Januari. Melek menilai perak masih rentan volatil karena defisit pasokan yang besar—bahkan permintaan investor yang “tidak seberapa” saja bisa memperdalam kekurangan, menguras stok, dan memicu gejolak lanjutan di level harga yang lebih tinggi.
Sementara itu, platinum naik 0,8% ke $2.112,56 per ons, dan palladium menguat 1,3% ke $1.727,75.(yds) Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
