
Rifan Financindo – Data Inflasi Redam Pemangkasan, Emas Tertahan di Tengah Perang Iran
Harga emas bergerak melemah setelah rilis inflasi bulanan AS mengurangi peluang Federal Reserve memangkas suku bunga, di saat perang di Timur Tengah masih berlarut-larut. Bullion bertahan di sekitar $5.160 per ons pada perdagangan awal setelah turun tipis pada sesi sebelumnya.
Meski inflasi inti AS terpantau relatif jinak pada awal tahun sebelum konflik pecah pasar kini lebih fokus pada risiko inflasi ke depan. Kekhawatiran “berwawasan ke depan” meningkat seiring dengan mengalirnya energi dan menjalankan rantai pasok, sehingga kemungkinan The Fed menurunkan biaya pinjaman yang dinilai semakin kecil. Di Eropa, Uni Eropa juga mengurangi tingkat inflasi yang berpotensi menembus 3% tahun ini.
Konflik AS–Israel vs Iran kini memasuki hari ke-13 dan terus mengganggu produksi minyak serta aktivitas pengilangan di Timur Tengah. Harga minyak naik untuk hari kedua karena pasar menilai risiko jangka panjang perang masih lebih dominan dibandingkan rilis cadangan darurat terbesar sepanjang sejarah oleh negara-negara maju. Presiden Donald Trump juga mengindikasikan AS dapat menggunakan Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk membantu menekan harga.
Bagi emas, prospek suku bunga yang lebih tinggi lebih lama menjadi hambatan karena emas batangan tidak memberikan hasil yang tidak seimbang. Di saat yang sama, emas juga sering dipakai sebagai sumber likuiditas ketika investor perlu memperkuat bagian lain dari portofolionya. Sejak perang pecah, kepemilikan emas di ETF cenderung menurun, meski pada Selasa sempat tercatat arus masuk setelah pekan lalu terjadi penurunan terbesar dalam lebih dari dua tahun.
Meskipun pergerakan belakangan berombak dan momentum kenaikan tertahan sejak perang dimulai pada 28 Februari, emas masih mencatat kenaikan yang kuat sepanjang tahun ini karena diperkirakan sebagai aset lindung nilai ketika geopolitik meningkat.
Pada pembaruan terakhir di Asia, emas spot turun tipis, sementara perak melemah dan platinum serta paladium ikut turun. Indeks dolar Bloomberg menguat tipis, menambah tekanan pada logam mulia.(asd)
Sumber: Newsmasker.id
Emas Melemah Pasca Data Inflasi AS, Harapan Cut Rate Menipis
Harga emas melemah pada hari Kamis (12/3) setelah rilis data inflasi bulanan AS membuat prospek pemangkasan suku bunga The Fed terlihat makin kecil, di saat perang di Timur Tengah masih berlarut. Bullion berada di kisaran $5.160-an per ons pada perdagangan awal, setelah turun tipis pada sesi sebelumnya.
Meski inflasi inti AS terpantau relatif terkendali di awal tahun—sebelum konflik pecah—pasar kini lebih fokus pada risiko inflasi ke depan. Lonjakan energi dan ketidakpastian rantai pasok akibat perang membuat kekhawatiran inflasi “forward-looking” meningkat, sehingga peluang The Fed menurunkan biaya pinjaman menjadi lebih sempit. Di Eropa, Uni Eropa juga mengingatkan inflasi kawasan berpotensi melampaui 3% tahun ini.
Konflik AS–Israel vs Iran kini memasuki hari ke-13 dan terus mengganggu produksi serta aktivitas pengilangan minyak di kawasan Timur Tengah. Harga minyak naik untuk hari kedua, karena pasar menilai risiko perang berkepanjangan masih lebih dominan dibanding rilis darurat cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah oleh negara-negara maju. Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan menggunakan Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS untuk meredakan harga.
Bagi emas, kombinasi suku bunga yang cenderung bertahan tinggi—yang menjadi hambatan bagi aset non-yielding—serta kebutuhan likuiditas portofolio membuat pergerakannya rentan. Dalam fase volatil seperti ini, emas kerap dijadikan “sumber dana” oleh investor untuk menutup kebutuhan di aset lain. Sejak perang pecah, volume kepemilikan emas di ETF tercatat menurun, meski pada Selasa sempat terlihat arus masuk setelah penurunan pekan lalu menjadi yang terbesar dalam lebih dari dua tahun.
Walau demikian, emas masih mencatat kenaikan yang kuat sepanjang tahun ini, ditopang perannya sebagai aset lindung nilai saat gejolak geopolitik meningkat. Namun, pergerakan harga belakangan cenderung berombak dan momentum naik terlihat tertahan sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Pada update terakhir, emas spot turun tipis 0,5% di sekitar $5.150,82 per ons. Perak melemah, sementara platinum dan palladium juga bergerak turun. Indeks dolar Bloomberg menguat tipis, menambah tekanan ringan pada logam mulia. (Arl) Rifan Financindo.
Sumber : Newsmaker
