
Rifan Financindo – Emas Bertahan, CPI Redakan Tekanan Fed Hike
Harga emas bergerak stabil di sekitar US$4.400 per troy ons pada perdagangan Kamis (13/08) setelah data inflasi Amerika Serikat yang relatif terkendali mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Emas sebelumnya menguat sekitar 0,9% pada perdagangan Rabu.
Data CPI AS menunjukkan harga konsumen hanya naik 0,1% secara bulanan pada Juli. Hasil tersebut memberikan sinyal bahwa dampak lonjakan harga energi akibat konflik Iran mulai mereda dan tekanan inflasi tidak mengalami percepatan baru.
Data tersebut turut menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September. Investor selanjutnya akan mencermati data tenaga kerja dan inflasi berikutnya, serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole akhir bulan ini.
Meski demikian, risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Eskalasi baru di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong harga energi naik. Minyak sendiri mengarah pada penguatan mingguan karena pasar terus mengikuti perkembangan negosiasi AS-Iran dan upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Dukungan terhadap emas juga tetap datang dari meningkatnya minat investor dan pembelian bank sentral, terutama China. Reli beberapa pekan terakhir telah membawa emas bertahan jauh di atas level US$4.000 dan untuk pertama kalinya sejak April berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari. Emas spot terakhir bergerak di sekitar US$4.403 per troy ons.
Analisis Newsmaker: CPI yang relatif jinak menjaga sentimen emas tetap positif karena risiko Fed hike September mulai berkurang. Selama emas mampu mempertahankan area US$4.400 dan dolar serta yield tidak kembali melonjak, peluang menguji US$4.450 hingga US$4.500 masih terbuka. Namun, lonjakan minyak akibat eskalasi Hormuz dapat kembali meningkatkan risiko inflasi dan membatasi kenaikan emas.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Cetak Puncak Dua Bulan, Peluang Fed Hike Menurun
Harga emas menguat pada perdagangan Rabu (12/8)dan kembali menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan setelah data inflasi Amerika Serikat sesuai dengan ekspektasi pasar. Emas spot naik sekitar 0,9% ke US$4.406,64 per troy ons dan sempat melonjak lebih dari 1% ke level tertinggi sejak 5 Juni.
Momentum teknikal juga ikut mendukung kenaikan setelah emas berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari yang berada di sekitar US$4.387. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik sekitar 0,6% ke US$4.467,50.
Data CPI AS menunjukkan inflasi naik 0,1% secara bulanan pada Juli, sesuai perkiraan pasar setelah sebelumnya turun 0,4% pada Juni. Hasil tersebut dinilai belum cukup panas untuk memperkuat alasan The Fed menaikkan suku bunga pada September.
Reaksi pasar terlihat dari turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Peluang Fed hike pada September turun menjadi sekitar 40%, dari sekitar 46% sebelum data CPI dirilis. Pelemahan dolar dan momentum teknikal turut memberikan dukungan tambahan bagi emas.
Fokus investor kini beralih ke data Producer Price Index atau PPI yang akan dirilis Kamis. Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah juga masih menjadi perhatian setelah muncul laporan serangan terhadap jalur pelayaran. Jika konflik kembali meningkatkan harga minyak mendekati US$100, risiko inflasi dapat kembali naik dan mempersulit pergerakan emas.
Analisis Newsmaker: CPI yang sesuai ekspektasi membuat tekanan hawkish The Fed berkurang dan membantu emas bertahan di atas US$4.400. Selama dolar dan yield tetap terkendali, peluang kenaikan menuju area US$4.450–US$4.500 masih terbuka. Namun, PPI yang lebih panas atau lonjakan minyak dapat kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga dan memicu koreksi jangka pendek pada emas.(yds) Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
