Berita Emas 2 September 2026

Rifan Financindo

Rifan Financindo – Konflik Memanas, Emas Malah Jatuh

Harga emas bertahan di sekitar US$4.330 per ons pada perdagangan Rabu setelah merosot hampir 6% dalam tiga sesi terakhir. Logam mulia tersebut sebelumnya menyentuh level terendah dalam dua pekan akibat tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS.

Imbal hasil obligasi global melonjak ke level tertinggi sejak 2008, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga. Tekanan semakin besar setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmennya memerangi inflasi, sementara konflik AS–Iran kembali mendorong harga minyak naik.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Eskalasi serangan antara AS dan Iran dikhawatirkan mengganggu pasokan energi, memperpanjang tekanan inflasi, dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan yang lebih ketat.

Tekanan turut datang dari imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun yang kembali menembus 5,28%. Gubernur The Fed Michael Barr juga mengatakan bank sentral harus siap menaikkan suku bunga apabila inflasi gagal mereda dan berisiko semakin mengakar.

Sentimen emas dalam jangka pendek masih cenderung tertekan selama imbal hasil obligasi, dolar AS, dan ekspektasi kenaikan suku bunga terus menguat. Risiko geopolitik dapat memberikan dukungan sebagai aset aman, tetapi untuk sementara kekhawatiran inflasi dan kebijakan hawkish The Fed lebih dominan dalam mengarahkan harga emas.

Emas Tumbang, Konflik AS-Iran dan Yield Jadi Tekanan

Harga emas turun tajam pada perdagangan Selasa (1/9), tertekan penguatan dolar AS setelah eskalasi ketegangan AS-Iran dan aksi jual di pasar obligasi global. Spot gold turun 2,7% dan ditutup di US$4.328,64 per troy ounce, sementara gold futures melemah 2,4% ke US$4.375,75 per ounce.

Tekanan terhadap emas muncul setelah Komando Pusat AS menyatakan telah melancarkan serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Media pemerintah Iran melaporkan serangan tersebut mengenai sebuah pabrik di Qeshm dan sejumlah target nonmiliter di Hormozgan.

Sebelumnya, AS dan Iran berada dalam kebuntuan terkait kendali Selat Hormuz. Namun, aksi militer kembali terjadi sejak akhir pekan setelah CENTCOM menyebut telah mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan IRGC yang diduga meletakkan ranjau di jalur strategis tersebut.

Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Yordania melaporkan delapan rudal berhasil dicegat dan dihancurkan, sementara Presiden Donald Trump mengatakan serangan terbaru AS merupakan respons atas upaya peletakan ranjau dan serangan terhadap pangkalan tersebut.

Harga minyak ikut melonjak setelah serangan baru AS. Brent crude futures naik 5,1% ke US$95,13 per barel, sementara WTI menembus US$90 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Juni. Kenaikan minyak memperkuat kekhawatiran inflasi energi dan membuat pasar semakin berhati-hati terhadap prospek suku bunga.

Di luar Timur Tengah, tekanan juga datang dari pasar obligasi. Yield Treasury AS naik tajam karena investor mencemaskan inflasi dan utang fiskal. Yield tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak November 2023, sementara yield tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September juga meningkat setelah pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September berada di sekitar 68%, sementara peluang The Fed menahan suku bunga sekitar 32%.

Data JOLTS menunjukkan lowongan kerja AS pada Juli mencapai 7,271 juta, lebih rendah dari ekspektasi 7,330 juta, tetapi naik dari revisi turun Juni sebesar 7,182 juta. Angka ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh, sehingga belum sepenuhnya memberi alasan bagi The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan.

Fokus pasar kini beralih ke laporan Nonfarm Payrolls AS bulan Agustus yang akan dirilis pada Jumat. Data tenaga kerja tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk menilai apakah The Fed memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga bulan ini.

Analisis Newsmaker: Penurunan tajam emas menunjukkan pasar sedang menempatkan dolar AS, yield Treasury, dan ekspektasi rate hike sebagai faktor dominan. Lonjakan minyak akibat konflik AS-Iran memperbesar risiko inflasi, sehingga menekan aset non-yielding seperti emas. Selama XAU/USD bertahan di bawah area US$4.400, tekanan jual masih berpotensi berlanjut. Namun, jika data NFP melemah atau muncul kabar positif dari Timur Tengah, emas berpeluang mendapat ruang rebound karena pasar dapat kembali menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. (arl) Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.