Berita Emas 2 November 2026

Rifan Financindo

Rifan Financindo – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah dalam satu tahun pada akhir pekan lalu. Emas spot (XAU/USD) naik 0,6% menjadi US$3.902,39 per troy ounce pada pukul 07.55 waktu Singapura. Kenaikan ini menjadi upaya pemulihan setelah emas anjlok 3,7% pada Jumat dan menutup Oktober dengan kinerja bulanan terburuk sejak 2008. Penurunan yang cukup dalam tersebut mulai menarik perhatian investor yang melihat harga emas saat ini sebagai peluang untuk kembali melakukan pembelian.

Dukungan terhadap emas datang dari melemahnya harga minyak dunia menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11). Penurunan minyak terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump lebih mengutamakan penyelesaian diplomatik terhadap konflik dengan Iran. Perkembangan ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar karena harga energi yang lebih rendah dapat membantu mengurangi tekanan inflasi. Jika risiko inflasi mereda, kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi emas untuk memulihkan sebagian kerugiannya.

Meski demikian, situasi geopolitik Timur Tengah masih menjadi ancaman bagi kestabilan pasar. Trump sebelumnya beberapa kali memperingatkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu, sementara Teheran mengancam akan memberikan balasan yang lebih luas apabila serangan kembali terjadi. Sejumlah negara Teluk juga mengkhawatirkan pecahnya konflik yang lebih besar dan berdampak pada pasokan energi global. Ketegangan ini menempatkan emas dalam situasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, ancaman perang dapat meningkatkan permintaan aset aman, tetapi di sisi lain, lonjakan harga minyak berisiko kembali mendorong inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.

Tekanan tambahan terhadap emas juga berasal dari pelemahan pasar saham teknologi global. Kekhawatiran mengenai besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan telah memicu aksi jual saham dalam beberapa sesi terakhir. Kondisi tersebut turut menyeret harga emas karena sebagian investor menjual kepemilikan logam mulia untuk menutup kerugian atau memenuhi kebutuhan dana pada investasi lainnya. Namun, penurunan harga yang cukup dalam mulai menarik pembelian dari investor jangka panjang, termasuk kemungkinan tambahan permintaan dari bank sentral. Meski aksi beli mulai terlihat, tekanan likuiditas dan sentimen negatif pasar saham masih dapat membatasi pemulihan emas dalam jangka pendek.

Dari sisi teknikal, Emas masih berada dalam kondisi yang rentan meskipun mulai menunjukkan pemulihan. Penutupan harga Jumat di bawah US$3.886 menjadi perhatian karena level tersebut sebelumnya dipandang sebagai area penopang penting. Kenaikan kembali menuju US$3.900 memberikan sinyal awal adanya respons pembeli, tetapi belum cukup untuk memastikan tekanan jual telah berakhir. Emas masih membutuhkan penguatan yang lebih konsisten, terutama kemampuan kembali menembus US$4.000 untuk memperbaiki prospek jangka pendek. Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan pemulihan dan kembali turun di bawah US$3.886, risiko penurunan lanjutan masih terbuka. Menurut analisa Newsmaker.id emas mulai menemukan peluang untuk bangkit, tetapi arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Iran, harga minyak, serta kemampuan pasar mempertahankan momentum pembelian setelah koreksi tajam sepanjang Oktober.

Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (30/10/2026), menyentuh level terendah dalam satu tahun terakhir setelah aksi jual saham teknologi Amerika Serikat memicu tekanan di pasar keuangan global.

Emas spot (XAU/USD) anjlok 3,5% menjadi US$3.880,97 per troy ounce, terendah sejak Oktober 2025, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup melemah 3,3% menjadi US$3.898,90 per troy ounce. Pelemahan juga melanda logam mulia lainnya, dengan harga perak merosot 6,5% menjadi US$49 per ounce, menembus level US$50 untuk pertama kalinya dalam 11 bulan.

Sementara itu, paladium turut jatuh ke bawah US$1.000 per ounce. Tekanan jual tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) setelah pelemahan saham teknologi memicu aksi pengurangan risiko secara luas.

Penurunan emas semakin dalam akibat meningkatnya kebutuhan likuiditas investor ketika pasar saham mengalami koreksi tajam. Analis Commerzbank menilai aksi jual saham teknologi kemungkinan memicu penjualan paksa terhadap sejumlah aset, termasuk emas, untuk memenuhi kebutuhan tambahan jaminan atau margin call. Kondisi ini menjelaskan mengapa emas yang biasanya dianggap sebagai aset aman justru ikut mengalami tekanan ketika Wall Street melemah. Di sisi lain, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi lebih lama serta melemahnya permintaan emas di Asia turut membatasi pemulihan harga.

Sejak mencapai rekor tertinggi US$5.595 per troy ounce pada Januari, emas telah kehilangan sekitar 30% nilainya. Meski demikian, sejumlah analis menilai pembelian emas oleh bank sentral berpotensi meningkat ketika harga berada di bawah US$4.000, sehingga dapat memberikan dukungan terhadap pasar dalam jangka menengah.

Tekanan yang lebih besar terlihat pada perak, platinum, dan paladium yang mengalami penurunan mingguan sekitar 7% hingga 9%. Indikator Relative Strength Index (RSI) ketiga logam tersebut dilaporkan telah memasuki wilayah jenuh jual (oversold) terdalam dalam tiga tahun, menunjukkan kuatnya momentum pelemahan.

Berbeda dengan emas yang memperoleh dukungan dari permintaan bank sentral dan kebutuhan diversifikasi aset aman, perak serta logam putih lainnya lebih sensitif terhadap prospek pertumbuhan industri global. HSBC memperkirakan rata-rata harga perak pada 2027 mencapai US$64 per ounce, lebih rendah dibandingkan proyeksi rata-rata tahun ini sebesar US$71. Sementara itu, rasio harga emas terhadap perak meningkat menjadi 79, tertinggi dalam 11 bulan, mencerminkan kinerja perak yang semakin tertinggal. Investor kini mencermati stabilitas Wall Street, prospek investasi AI, serta arah kebijakan Federal Reserve untuk menilai peluang pemulihan pasar logam mulia setelah tekanan jual yang berkepanjangan.

Kesimpulan Newsmaker

Penurunan emas hingga ke bawah US$3.900 menunjukkan bahwa tekanan jual tidak lagi hanya dipengaruhi ekspektasi suku bunga tinggi, tetapi juga kebutuhan likuiditas akibat kepanikan di pasar saham teknologi. Meskipun emas memiliki karakter sebagai aset aman, penjualan paksa untuk memenuhi kebutuhan dana dapat membuat harganya ikut tertekan ketika terjadi koreksi besar di pasar keuangan.

Pandangan Newsmaker: Pelemahan emas saat ini memperlihatkan bahwa status safe haven tidak selalu menjamin kenaikan harga ketika pasar mengalami tekanan likuiditas. Peluang pemulihan masih terbuka, tetapi membutuhkan stabilisasi pasar saham, meredanya penjualan paksa, serta perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.