
PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Rabu (4/11/2026), didukung oleh penurunan harga minyak yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Emas spot tercatat naik 0,2% menjadi US$3.936,44 per troy ounce. Meski demikian, penguatan logam mulia masih terbatas setelah data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dukungan terhadap emas datang dari melemahnya harga minyak dunia di tengah perkembangan perundingan damai antara AS dan Iran. Penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan inflasi, sehingga dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak memperketat kebijakan moneter secara berlebihan. Kondisi tersebut menjadi faktor positif bagi emas karena logam mulia cenderung lebih menarik ketika ekspektasi kenaikan suku bunga mulai mereda.
Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh laporan lowongan pekerjaan AS atau JOLTS yang menunjukkan peningkatan signifikan pada September. Jumlah lowongan pekerjaan melonjak menjadi 7,52 juta, jauh melampaui perkiraan pasar sebesar 7,1 juta. Data ini mencerminkan permintaan tenaga kerja yang masih kuat dan memberikan sinyal bahwa aktivitas ekonomi AS tetap solid. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki alasan untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember.
Menurut analis teknikal GivTrade, Waleed Said, hasil JOLTS yang lebih kuat dari perkiraan menjadi kejutan yang mendukung sikap kebijakan moneter ketat atau hawkish. Kondisi ini berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS sekaligus membatasi kenaikan emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga, sementara emas tidak memberikan imbal hasil. Oleh karena itu, penguatan emas saat ini masih menghadapi tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter AS.
Newsmaker mencatat, pergerakan emas menunjukkan adanya tarik-menarik antara meredanya risiko inflasi akibat penurunan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga setelah rilis data tenaga kerja AS yang kuat. Dalam jangka pendek, investor akan mencermati perkembangan hasil pemilu sela AS serta laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat. Jika data ketenagakerjaan kembali menunjukkan kekuatan ekonomi AS, dolar berpotensi menguat dan membatasi pemulihan emas. Sebaliknya, tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja dapat mengurangi tekanan dari ekspektasi suku bunga dan membuka peluang penguatan emas lebih lanjut.
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026), seiring meningkatnya kehati-hatian investor di tengah perkembangan diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran serta berlangsungnya pemilu paruh waktu AS.
Emas spot (XAU/USD) turun 0,5% menjadi US$3.925,25 per troy ounce pada sesi New York, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 0,6%. Pelemahan tersebut terjadi ketika harga minyak dunia kembali menurun menyusul laporan yang belum terkonfirmasi mengenai kemajuan perundingan damai AS-Iran. Pada saat bersamaan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar turut membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga.
Washington dan Teheran tengah mempertimbangkan sejumlah proposal baru dari mediator untuk menghindari kembalinya konflik militer berskala besar. Namun, televisi pemerintah Iran mengutip juru bicara tim perunding yang menyatakan belum ada perkembangan baru mengenai kesepakatan. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengurangi posisi besar menjelang hasil pemilu AS. Di sisi lain, emas masih menghadapi tekanan setelah anjlok hampir 7% sepanjang Oktober dan menembus level psikologis US$4.000. Koreksi saham perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI) juga sebelumnya memicu penjualan emas ketika investor membutuhkan likuiditas di tengah gejolak pasar keuangan.
Tekanan tambahan datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan meningkat secara tak terduga ke level tertinggi empat bulan pada September, sementara pemutusan hubungan kerja turun ke posisi terendah dalam lebih dari satu tahun. Data tersebut memperlihatkan ketahanan permintaan tenaga kerja dan berpotensi mempertahankan ekspektasi kebijakan suku bunga ketat Federal Reserve. Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,3%, sedangkan harga perak turun 1,9% menjadi US$49,65 per troy ounce, diikuti pelemahan platinum dan paladium. Pelaku pasar kini menantikan kejelasan hasil pemilu AS, perkembangan diplomasi dengan Iran, serta data ekonomi berikutnya untuk menentukan arah pergerakan emas.
Pandangan Newsmaker
Pelemahan emas menunjukkan bahwa pasar masih kesulitan membangun momentum pemulihan setelah tekanan jual tajam sepanjang Oktober. Meskipun penurunan minyak dapat meredakan kekhawatiran inflasi, penguatan dolar dan kenaikan yield Treasury justru memberikan tekanan terhadap logam mulia.
Pemilu paruh waktu AS juga menjadi faktor ketidakpastian. Perubahan komposisi Kongres dapat memengaruhi kebijakan fiskal dan hubungan geopolitik, tetapi dampaknya terhadap emas tidak selalu memiliki arah yang pasti. PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : NewsMaker
