
PT Rifan Financindo – Emas Melonjak, Apa Kabar di Balik Kesepakatan dan Fed?
Emas terus mempertahankan kenaikan selama tiga hari berturut-turut, didorong oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan dagang dengan Jepang dan Filipina. Trump mengumumkan tarif baru sebesar 15% untuk produk Jepang dan 19% untuk produk Filipina, menandakan kemajuan dalam negosiasi perdagangan yang ketat menjelang batas waktu tarif pada 1 Agustus. Kabar ini membuat investor semakin fokus pada perkembangan perundingan dagang, khususnya dengan Tiongkok, yang rencananya akan dibahas kembali dalam pertemuan di Stockholm minggu depan.
Selain kemajuan dagang, pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor pendorong kenaikan harga emas. Menteri Keuangan Scott Bessent memberikan dukungan kepada Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang sempat mendapat kritik dari Trump karena mempertahankan suku bunga tetap tinggi. Kondisi ini membuat emas lebih menarik sebagai aset safe haven karena tidak memberikan bunga dan biasanya dihargai dalam dolar AS.
Harga emas telah meningkat sekitar sepertiga sepanjang tahun ini, dipicu oleh ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan global Trump serta konflik di Ukraina dan Timur Tengah. Meskipun begitu, harga emas masih bergerak dalam kisaran ketat selama beberapa bulan terakhir dan saat ini berada sekitar $70 di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada April lalu di level lebih dari $3.500 per ons.
Para pelaku pasar kini menantikan beberapa data ekonomi penting dari AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, serta perhatian akan tertuju pada pernyataan pejabat Federal Reserve menjelang pertemuan kebijakan minggu depan. Harga emas spot tercatat stabil di kisaran $3.430 per ons, sementara perak tetap stabil dan platinum serta paladium mengalami sedikit penurunan.
Sumber: Newsmaker.id
Emas Tembus Puncak 5 Pekan di Tengah Kekhawatrian Perdagangan
Emas Cetak Tertinggi Lima Minggu, Didorong Ketidakpastian Perdagangan dan Yield AS Melemah
Harga emas melonjak ke level tertinggi dalam lima pekan pada Selasa (22/7), didukung oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi kegagalan kesepakatan dagang AS-Uni Eropa serta penurunan imbal hasil obligasi AS.
Emas spot naik 1% ke $3.428,84 per ons, sementara emas berjangka AS naik 1,1% ke $3.443,70.
Penurunan yield obligasi 10-tahun AS ke level terendah dalam dua minggu membuat logam tanpa imbal hasil seperti emas menjadi lebih menarik.
Analis pasar memperkirakan minat terhadap aset safe haven akan tetap tinggi, terutama menjelang tenggat waktu tarif 1 Agustus dari Presiden AS Donald Trump.
Ketidakpastian meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa AS tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan dan bahkan membuka kemungkinan memperpanjang tenggat tarif dengan Tiongkok hingga 12 Agustus. Di sisi lain, Uni Eropa mengisyaratkan akan menyiapkan tindakan balasan jika tidak tercapai kesepakatan perdagangan.
Harga emas juga mendapat dukungan dari spekulasi pasar bahwa The Fed akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Oktober, meskipun pekan depan diperkirakan masih menahan suku bunga.
Lingkungan suku bunga rendah biasanya menguntungkan emas karena menurunkan opportunity cost bagi investor.
Sementara itu, logam mulia lainnya mencatat pergerakan beragam. Perak naik 0,6% ke $39,16 per ons, palladium menguat 1,4% ke $1.282,82, namun platinum turun 0,5% ke $1.431,64. Analis memperkirakan level $3.420 sebagai area resistensi penting untuk emas, dengan dukungan kuat di sekitar $3.350.(yds) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
