
PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas (XAU/USD) kembali menguat pada perdagangan Selasa setelah penurunan harga minyak dunia dalam beberapa sesi terakhir mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global. Kondisi tersebut membuat pasar mulai memperhitungkan bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin tidak perlu melakukan kenaikan suku bunga tambahan secara agresif.
Emas diperdagangkan di sekitar level US$4.360 per troy ounce, berbalik menguat setelah sebelumnya mencatat penurunan harian terbesar dalam sepekan. Kenaikan emas terjadi ketika harga minyak mulai stabil setelah mengalami penurunan lebih dari 9% dalam empat hari terakhir akibat meredanya kekhawatiran gangguan pasokan Timur Tengah serta meningkatnya harapan terhadap jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik Amerika Serikat dan Iran.
Penurunan harga minyak menjadi faktor positif bagi emas karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi. Inflasi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan atau melonggarkan kebijakan moneter, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai yang tidak memberikan imbal hasil.
Namun, pasar masih mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed setelah keputusan kenaikan suku bunga pekan lalu. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menegaskan bahwa bank sentral tidak dapat mengabaikan tekanan harga akibat gangguan pasokan yang terus berulang. Sementara itu, Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menyebut kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target.
Meski terdapat tekanan dari sikap hawkish The Fed, minat terhadap emas tetap kuat. Analis TD Securities Ryan McKay menyebut emas masih menunjukkan ketahanan setelah kenaikan suku bunga terbaru, dengan pelemahan jangka pendek mulai dianggap sebagai peluang akumulasi oleh sebagian investor. Arus dana ke ETF berbasis emas juga menunjukkan peningkatan, dengan sekitar 50 ton masuk sepanjang September.
Selain faktor moneter, investor juga menantikan perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping. Pembahasan terkait perdagangan, investasi, serta teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi sentimen risiko global.
Newsmaker melihat, emas saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara tekanan suku bunga The Fed dan dukungan dari penurunan inflasi serta ketidakpastian geopolitik. Jika harga minyak terus melemah dan pasar mulai melihat peluang kebijakan The Fed yang lebih longgar, emas berpotensi mendapatkan dukungan lanjutan. Namun, penguatan dolar AS dan pernyataan hawkish dari pejabat The Fed masih menjadi risiko utama yang dapat membatasi kenaikan emas.
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9), turun lebih dari 0,6% setelah investor masih mencerna keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga pekan lalu. XAU/USD bergerak di sekitar US$4.350 per troy ounce setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian mendekati US$4.383 per troy ounce. Tekanan terhadap emas muncul meskipun yield Treasury AS mulai menurun pada paruh kedua perdagangan.
Pergerakan emas masih dibayangi oleh penguatan dolar AS yang kembali mendapatkan dukungan dari ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat. Indeks dolar AS (DXY) naik sekitar 0,2% ke level 100,42, karena pasar menilai keputusan kenaikan suku bunga The Fed berhasil memperkuat kembali kredibilitas bank sentral dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
Sentimen pasar yang lebih positif juga membuat permintaan terhadap aset safe haven seperti emas sedikit berkurang. Harapan terhadap perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran turut menekan harga minyak, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran di sela-sela Sidang Umum PBB pekan ini.
Meskipun yield Treasury AS mengalami penurunan, emas belum mampu memanfaatkan kondisi tersebut secara maksimal. Pasar masih memperkirakan The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga menjelang akhir tahun, dengan pelaku pasar memperhitungkan tambahan pengetatan sekitar 33 basis poin. Kondisi ini membuat tekanan terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas masih bertahan.
Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan pandangan yang cenderung hawkish. Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan tanpa kebijakan yang lebih ketat, inflasi berpotensi tetap berada jauh di atas target 2% dalam 18 bulan ke depan. Sementara Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menilai bank sentral tidak dapat mengabaikan tekanan inflasi akibat gangguan pasokan yang terus terjadi.
Analisis Newsmaker: Pergerakan emas saat ini masih menghadapi tekanan dari kombinasi dolar yang kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan The Fed. Namun, risiko geopolitik dan potensi pelemahan dolar masih menjadi faktor pendukung bagi emas. Investor selanjutnya akan mencermati data ekonomi AS seperti ADP Employment Change, PMI manufaktur dan jasa, serta rangkaian pidato pejabat The Fed untuk mencari arah baru pergerakan XAU/USD. (arl) PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : NewsMaker
