
PT Rifan – Buy the Dip Balik Masuk, Emas Rebut Lagi Level $5.000
Harga emas naik lagi dan kembali menembus $5.000 per ons, setelah pemburu harga murah (dip-buyers) masuk ke pasar usai sepekan yang super volatil. Di awal perdagangan Asia, spot gold sempat menguat sampai 1,7% dan bergerak di sekitar $5.028 per ons, sementara perak ikut naik.
Kenaikan ini juga kebantu sentimen dari Jepang. Kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi membuat pasar makin yakin arah kebijakan fiskal bakal lebih longgar, sementara yen tetap berada di bawah tekanan. Kondisi seperti ini biasanya bikin emas makin menarik sebagai “penyimpan nilai” saat mata uang melemah.
Sebelumnya, logam mulia sempat jatuh tajam dari rekor tertinggi akhir Januari, setelah reli besar yang dianggap terlalu cepat dan terlalu jauh. Per Jumat, emas masih turun sekitar 11% dari puncak 29 Januari, tapi secara year-to-date tetap menguat sekitar 15%. Sejumlah pihak bahkan menilai pergerakan liar kemarin dipicu aksi spekulatif, termasuk sorotan bahwa trader China ikut memperbesar gelombangnya.
Meski masih “choppy”, emas sudah memangkas sekitar setengah dari penurunan pasca-rout, ditopang permintaan jangka panjang. Data terbaru menunjukkan bank sentral China melanjutkan pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut, mempertegas demand resmi yang masih kuat. Ke depan, pasar bakal fokus ke data ekonomi AS—terutama laporan tenaga kerja Januari (Rabu) dan data inflasi (Jumat)—buat baca arah suku bunga The Fed, sementara isu independensi The Fed ikut jadi bumbu setelah Kevin Warsh kembali menyinggung perlunya kesepakatan baru antara bank sentral dan Departemen Keuangan AS.(asd) PT Rifan.
Sumber: Newsmaker.id
Emas Lompat 3%: Dolar Loyo, Dipicu Buy the Dip
Harga emas (XAU/USD) melonjak lebih dari 3% pada Jumat (6/2) dan bersiap mencatat kenaikan mingguan yang solid, pasca para “buyers dip” masuk memanfaatkan pelemahan dolar AS. Sesi Jumat berjalan sangat volatil: emas sempat jatuh ke low tiga hari di $4.655, namun kemudian berbalik arah dan menghapus penurunan tersebut. Saat laporan ini dibuat, XAU/USD diperdagangkan di sekitar $4.963.
Rebound tajam ini terjadi setelah emas tertekan pada Kamis dan sempat turun menembus area $4.800. Dorongan utama datang dari melemahnya dolar di awal sesi Jumat, yang dipicu rilis data tenaga kerja AS sehari sebelumnya yang lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut kembali menghidupkan spekulasi bahwa The Fed masih berpeluang melonggarkan kebijakan (rate cut lebih lanjut), sehingga investor kembali melirik emas meski yield obligasi AS mulai menunjukkan tanda-tanda menguat.
Dari sisi kalender data, pasar relatif “sepi” karena rilis Nonfarm Payrolls (NFP) Januari ditunda ke 11 Februari akibat shutdown pemerintah AS. Sementara itu, survei University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS membaik. Namun catatan pentingnya, direktur survei Joanne Hsu menekankan kenaikan sentimen terutama terjadi pada kelompok dengan portofolio saham terbesar, sedangkan konsumen tanpa kepemilikan saham masih berada pada level sentimen yang rendah.
Di sisi geopolitik, pembicaraan AS–Iran dimulai di Oman dan kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi. Meski demikian, laporan menyebut Iran menolak mengakhiri pengayaan nuklir dalam pembahasan dengan AS, sehingga ketidakpastian tetap membayangi pasar.
Minggu depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada rilis data penting AS: Employment Situation, Retail Sales, dan CPI, serta rangkaian pidato pejabat The Fed yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga—yang biasanya langsung berdampak ke dolar dan pergerakan emas.(yds) PT Rifan.
Sumber : NewsMaker
