
PT Rifan Financindo – Emas Naik Hari Kelima, Pasar Makin Defensif!
Harga emas menguat untuk hari kelima berturut-turut, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah mengguncang pasar energi global dan mendorong investor kembali memburu save heaven. Emas bertahan di atas $5.340/oz pada perdagangan awal Asia setelah mengakhiri sesi sebelumnya menguat sekitar 0,8%.
Kenaikan ini terjadi saat Presiden AS Donald Trump menegaskan ofensif militer terhadap Iran akan berlanjut “selama diperlukan”. Di sisi lain, Teheran dilaporkan menyerang infrastruktur minyak dan gas serta mengancam jalur pengapalan di kawasan, menambah kecemasan pasar terhadap pasokan energi dan stabilitas regional.
Lonjakan harga energi yang menyertai konflik turut memicu kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat. Dampaknya, obligasi pemerintah AS melemah dan pasar mulai menilai Federal Reserve berpotensi menahan suku bunga lebih lama. Pelaku pasar kini cenderung memundurkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, dengan perkiraan pemotongan baru lebih mungkin terjadi sekitar September.
Secara teori, suku bunga tinggi bisa menjadi hambatan bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil. Namun dalam situasi ketidakpastian yang meningkat terutama ketika inflasi kembali menjadi perhatian emas justru sering dipandang sebagai penyimpan nilai yang lebih kuat, sehingga tetap mendapatkan aliran permintaan.
Sepanjang tahun ini, emas sudah naik hampir seperempat, ditopang ketegangan geopolitik dan perdagangan, serta kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter AS. Selain itu, kembalinya tren “debasement trade” yakni pergeseran investor dari obligasi dan mata uang ke aset riil memberi dorongan tambahan pada reli emas yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir. Emas sempat mencetak rekor di atas $5.595/oz pada akhir Januari.
Pada update terakhir, spot gold naik sekitar 0,4% ke $5.342,99/oz. Perak menguat 0,6% ke $89,87 setelah sehari sebelumnya terkoreksi tajam, sementara platinum dan palladium juga bergerak naik. Di pasar valas, indeks dolar Bloomberg melemah tipis setelah menguat pada sesi sebelumnya, memberikan ruang tambahan bagi logam mulia untuk bertahan kuat.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Naik 1%: Selat Hormuz Jadi Fokus Pasar
Harga emas menguat pada Senin (2/3) saat investor berbondong-bondong masuk ke aset aman setelah eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan kekhawatiran perang regional yang lebih luas. Sentimen pasar memburuk setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran, mendorong aksi risk-off di berbagai kelas aset.
Pada perdagangan sore waktu AS, emas spot naik sekitar 1% ke $5.330,31/oz, setelah sebelumnya sempat menyentuh $5.419,32/oz—level tertinggi sejak akhir Januari. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik 1,9% ke $5.345,80/oz.
Kenaikan emas terjadi di tengah meningkatnya permintaan safe haven, setelah operasi militer terhadap Iran berlanjut dan laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu kekhawatiran eskalasi. Pasar juga menyoroti risiko gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat krusial.
Guncangan geopolitik ini memicu pola klasik risk-off: saham melemah di awal sesi, sedangkan harga minyak melonjak, yang pada akhirnya memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai ketika ketidakpastian meningkat.
Analis ING menilai, jika konflik melebar atau suplai energi terganggu, emas bisa mendapat dorongan tambahan melalui jalur kenaikan harga minyak, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, dan real yield yang tertahan. Sementara itu, Pepperstone menekankan pasar kini menghadapi rentang skenario yang jauh lebih lebar, membuat penilaian risiko menjadi sangat sulit dan mendorong strategi defensif “kurangi risiko dulu, urusan penjelasan belakangan.”(mrv) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
