
Rifan Financindo – Emas Melonjak 2%: Ada Apa di Timur Tengah?
Harga emas melonjak tajam pada awal pekan, dipicu eskalasi perang di Timur Tengah yang bikin pasar global “mode waspada” dan investor buru-buru pindah ke aset aman.
Dalam perdagangan awal Asia, emas sempat naik lebih dari 2% ke kisaran US$5.390/oz, melanjutkan kenaikan pekan lalu yang sudah lebih dari 3%. Kenaikan ini terjadi saat ketegangan geopolitik makin panas dan sentimen safe haven kembali dominan.
Konflik melebar setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, lalu Teheran membalas dengan gelombang rudal yang dilaporkan menghantam target di beberapa negara. Situasi makin mengguncang pasar setelah laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama serangan.
Bloomberg menilai reli emas ini juga didorong faktor yang sudah lama jalan: tensi geopolitik global, perubahan arah kebijakan luar negeri AS, serta tren investor yang mengurangi eksposur ke obligasi dan mata uang, sementara pembelian bank sentral tetap tinggi.
Dampaknya terasa lintas aset: minyak melonjak paling besar dalam empat tahun di tengah kekhawatiran gangguan pasokan termasuk isu “efektif tertutupnya” Selat Hormuz sementara indeks dolar AS ikut menguat. Artinya, pasar lagi menilai risiko pasokan energi dan risiko geopolitik sebagai tema utama.
Selain emas, logam mulia lain ikut naik: perak menguat, disusul platinum dan palladium. Pada saat yang sama, penguatan dolar tidak menghentikan reli komoditas—menunjukkan investor menganggap “hard assets” sebagai pelindung nilai di fase ekstrem seperti sekarang.
Inti Poin :
- Emas naik tajam karena investor “lari ke aman” saat perang Timur Tengah makin luas.
- Harga emas sempat tembus sekitar US$5.390/oz pada awal sesi Asia.
- Serangan AS–Israel ke Iran dan balasan rudal Iran meningkatkan risiko geopolitik regional.
- Pasar komoditas ikut bergejolak: minyak melonjak besar akibat kekhawatiran pasokan/Selat Hormuz.
- Perak, platinum, dan palladium juga menguat; dolar naik tapi tidak “mematikan” reli komoditas.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Tembus $5.260, Alarm Timur Tengah Kembali Menyala
Harga emas menguat tajam pada Jumat (27/2) dan sempat menembus area $5.260 per ons, seiring pasar kembali masuk mode defensif. Kombinasi inflasi produsen AS yang lebih panas dari perkiraan dan meningkatnya kecemasan geopolitik terkait Iran mendorong arus safe haven, membuat XAU/USD mencetak level tertinggi dalam sekitar satu bulan.
Dari sisi geopolitik, putaran pembicaraan nuklir AS–Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan final. Mediator Oman menyatakan ada kemajuan dan pembahasan teknis akan berlanjut pekan depan di Wina, tetapi situasi tetap rapuh karena Washington masih menilai opsi tekanan—termasuk penggunaan kekuatan—tetap berada di atas meja.
Sentimen risiko ikut tersulut setelah muncul laporan bahwa Kedutaan Besar AS di Yerusalem memberikan izin “authorized departure” bagi staf non-esensial dan keluarga untuk meninggalkan Israel, sebagai langkah kehati-hatian di tengah potensi eskalasi regional. Headline ini memicu reaksi cepat di logam mulia.
Di pasar, reli emas juga mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil obligasi AS dan kekhawatiran bahwa tekanan harga bisa bertahan lebih lama (higher for longer). Dengan diplomasi yang belum menghasilkan terobosan dan risiko kawasan yang kembali naik level, emas tetap diposisikan pasar sebagai pelindung portofolio saat ketidakpastian meningkat.(mrv) Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
