
PT Rifan Financindo Berjangka – Emas Stabil, Pasar Cermati Proposal Damai Iran dan Agenda Bank Sentral
Harga emas bergerak terbatas saat pelaku pasar menimbang upaya terbaru AS dan Iran untuk mencari solusi negosiasi atas perang yang sudah berlangsung sekitar dua bulan. Bullion bertahan di sekitar $4.690 per ons pada perdagangan awal setelah turun 0,6% pada Senin (28/4).
Gedung Putih menyebut Presiden AS Donald Trump mengadakan pertemuan dengan pejabat keamanan nasional untuk membahas usulan perdamaian terbaru dari Iran. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan AS tetap memegang “garis merah” dalam setiap kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Pembahasan ini mengikuti laporan bahwa Teheran mengusulkan kesepakatan sementara, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai ketidakseimbangan atas peringatan blokade AS terhadap kapal yang bergerak dari dan menuju pelabuhan Iran. Usulan tersebut juga disebut akan mengadakan negosiasi yang lebih kompleks terkait program nuklir Iran.
Kebuntuan di Selat Hormuz telah menekan aktivitas pelayaran hingga mendekati nol, sehingga menghambat aliran minyak mentah, gas alam, dan produk minyak. Bagi pasar, setiap sinyal perubahan status jalur energi ini menjadi faktor utama karena langsung terkait dengan pasokan risiko dan arah inflasi.
Selain geopolitik, fokus investor pekan ini menyampaikan pada keputusan suku bunga bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, serta bank sentral di Jepang, Inggris, dan Kanada. Guncangan pasokan energi selama delapan pekan konflik meningkatkan risiko inflasi, meningkatkan peluang suku bunga bertahan lebih lama atau bahkan naik, yang menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan hasil yang tidak seimbang; emas disebut telah turun sekitar 11% sejak konflik dimulai akhir Februari.
Pada perdagangan terbaru, spot emas naik tipis 0,1% menjadi $4.687,31 per ons (06.56 Singapura). Perak naik 0,5% menjadi $75,90, sementara platinum dan paladium ikut menguat. Bloomberg Dollar Spot Index datar setelah turun 0,1% pada hari Senin, membuat pergerakan emas lebih mempengaruhi perkembangan diplomasi dan ekspektasi kebijakan suku bunga.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Koreksi, Sinyal Hormuz Redakan Risiko tapi Suku Bunga Menahan
Emas (XAU/USD) terkoreksi di awal pekan seiring tajuk utama AS–Iran yang memperbaiki sentimen pasar, meski pembicaraan akhir pekan gagal terwujud. Pada saat laporan ini disusun, XAU/USD bergerak di sekitar $4.704, relatif stabil hari ini setelah sempat menyentuh $4.730.
Sentimen membaik setelah laporan Axios menyebut Iran mengajukan proposal baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sementara isu nuklir dipindahkan ke tahap negosiasi berikutnya. Washington belum memberi tanggapan, namun pasar menilai jalur diplomasi masih terbuka saat Teheran meningkatkan upaya untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan Jared Kushner dan Steve Witkoff ke Islamabad dan menyebut Iran telah “menawarkan banyak, tetapi tidak cukup.” Dolar ikut tertekan setelah laporan Axios, dengan DXY turun sekitar 0,26% ke kisaran 98,27, tetapi pelemahan dolar belum cukup untuk mendorong reli emas yang lebih meyakinkan.
Hambatan utama datang dari ekspektasi suku bunga. Perhatian pasar beralih ke rangkaian pertemuan bank sentral utama akhir pekan ini—The Fed, ECB, BoE, dan BoJ—yang secara luas diperkirakan menahan suku bunga, di tengah lonjakan minyak terbaru yang menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan menambah risiko ke pertumbuhan.
Dalam konteks itu, narasi “higher for longer” tetap menjadi beban bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil, meski perannya sebagai lindung nilai inflasi dan safe haven masih relevan. Arah berikutnya akan banyak ditentukan oleh dua hal: apakah ada kemajuan konkret menuju pembukaan Hormuz (yang bisa menekan minyak dan meredakan tekanan inflasi) dan apakah bank sentral—terutama The Fed—memberi sinyal yang memperketat ekspektasi suku bunga lebih jauh.(gn) PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : NewsMaker
