Berita Emas 29 Juni 2026

PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo – Konflik AS-Iran Tekan Kilau Emas

Harga emas melemah mendekati level US$4.000 per troy ounce setelah ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi. Tekanan muncul setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk Persia, sehingga membuat gencatan senjata yang sebelumnya meredakan pasar kembali diuji.

Harga emas spot sempat turun hingga 0,9% setelah pada perdagangan Jumat sebelumnya menguat 1,6%. Saat berita ini ditulis harga Emas diperdagangkan di areaUS$4.061. Pelemahan ini terjadi ketika harga minyak kembali naik setelah sebuah kapal tanker pengangkut minyak mentah Qatar terkena serangan dalam rangkaian aksi balasan sepanjang akhir pekan. Gangguan di sekitar Selat Hormuz membuat pasar kembali mencemaskan risiko pasokan energi global.

Meski begitu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah sepakat untuk menghentikan serangan dan dijadwalkan bertemu pada Selasa di Doha. Kabar ini sedikit meredakan kepanikan pasar, tetapi belum cukup untuk menghapus kekhawatiran investor terhadap dampak konflik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan terbaru ini datang setelah data inflasi Amerika Serikat masih menunjukkan tekanan harga yang tinggi, meski angkanya sesuai dengan perkiraan analis. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE, yang menjadi indikator inflasi utama The Federal Reserve, naik 0,4% pada Mei. Data ini membuat pasar tetap berhati-hati dalam membaca arah suku bunga AS.

Dalam beberapa bulan terakhir, emas tertekan cukup dalam karena kenaikan harga energi ikut memperkuat risiko inflasi. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi emas, situasi ini menjadi tekanan karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.

Pada perdagangan pagi di Singapura, harga emas spot turun 0,6% ke level US$4.062,47 per troy ounce. Perak juga melemah 0,8% ke US$58,67, sementara platinum dan palladium ikut bergerak turun tipis. Di sisi lain, indeks dolar Bloomberg bergerak sedikit lebih tinggi setelah sebelumnya sempat melemah 0,6%, sehingga turut menambah tekanan pada harga logam mulia.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

mas Rebound, Tapi Masih Menuju Pelemahan Mingguan

Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (26/6) seiring melemahnya dolar Amerika Serikat dan sedikit meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah rilis data inflasi. Meski demikian, logam mulia masih berada di jalur pelemahan mingguan keempat berturut-turut.

Harga emas spot naik 1,2% ke level US$4.073,78 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga menguat 1,2% ke level US$4.096,30 per troy ounce.

Dolar AS melemah dari level tertinggi terbaru setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE dirilis pada Kamis. PCE AS naik 4,1% dalam 12 bulan hingga Mei, sesuai dengan perkiraan ekonom. Karena tidak ada kejutan inflasi yang lebih panas dari ekspektasi, tekanan terhadap emas mulai berkurang.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September sekitar 60%, turun dari ekspektasi sebelumnya sekitar 64%. Penurunan peluang tersebut membantu emas rebound karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan emas sedang mengalami rebound moderat setelah mendapat tekanan jual pada awal pekan. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan karena dolar yang kuat dan ekspektasi suku bunga tinggi.

Meski menguat pada Jumat, emas masih turun sekitar 2,6% sepanjang pekan ini. Tekanan mingguan tersebut menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari sentimen bearish, terutama karena The Fed masih berpotensi mempertahankan kebijakan ketat selama inflasi belum kembali mendekati target 2%.

TD Securities menilai hubungan negatif emas dengan dolar AS dan harga minyak masih perlu diperhatikan. Jika harga energi kembali menguat secara berkelanjutan, tekanan inflasi dapat meningkat dan mendorong The Fed tetap hawkish. Kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan baru terhadap emas dalam beberapa bulan ke depan.

Dari sisi permintaan fisik, emas mulai diperdagangkan dengan premi di India untuk pertama kalinya dalam satu setengah bulan. Koreksi harga sebelumnya mendorong pembelian di pasar India. Namun, permintaan di China, sebagai konsumen emas terbesar, masih terlihat lemah.

Dengan kondisi tersebut, rebound emas saat ini masih lebih terlihat sebagai pemulihan teknikal dibandingkan perubahan tren besar. Untuk melanjutkan kenaikan yang lebih kuat, emas membutuhkan pelemahan dolar yang berkelanjutan, penurunan yield Treasury, serta sinyal bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif.(yds) PT Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.