Berita Emas 10 Juli 2026

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Emas Bergerak Terbatas di Sesi Asia,

Newsmaker.id – Harga emas bergerak terbatas pada perdagangan sesi Asia, Jumat (10/7), setelah mencatat penguatan lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. XAU/USD diperdagangkan di kisaran US$4.120 per troy ounce, sedikit melemah karena investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah lonjakan harga pada perdagangan Kamis.

Pada perdagangan sebelumnya, emas spot melonjak 1,3% ke level US$4.130,58 per troy ounce. Penguatan tersebut dipicu oleh aksi beli di harga rendah serta meningkatnya permintaan aset aman setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memburuk.

Meski risiko geopolitik masih memberikan dukungan, ruang kenaikan emas mulai terbatas akibat ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang tetap ketat. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di sekitar 62%, seiring kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat kembali mendorong harga energi dan inflasi.

Tekanan juga datang dari prospek dolar AS dan imbal hasil obligasi yang masih tinggi. Lingkungan suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga investor lebih tertarik menempatkan dana pada aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih fluktuatif dengan perhatian pasar tertuju pada data inflasi Amerika Serikat dan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di Kongres pada pekan depan. Selama harga bertahan di atas US$4.100, peluang rebound masih terbuka, tetapi penguatan berpotensi tertahan di sekitar US$4.130 hingga US$4.150.

Dampaknya ke Market :

Emas: Cenderung konsolidasi. Risiko geopolitik menjadi penopang, tetapi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membatasi penguatan.

Dolar AS: Berpotensi menguat apabila data inflasi AS kembali tinggi dan memperbesar peluang kenaikan suku bunga.

Treasury yield: Berpeluang tetap tinggi karena pasar masih mengantisipasi kebijakan The Fed yang hawkish.

Minyak: Penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi dan membatasi permintaan emas sebagai lindung nilai.

Kesimpulan : emas masih memperoleh dukungan dari konflik AS–Iran, tetapi pergerakan sesi Asia lebih terlihat sebagai konsolidasi setelah reli tajam, bukan awal tren kenaikan baru. Area US$4.100 menjadi support penting, sementara US$4.150 menjadi resistance terdekat.(CP)

Emas Rebound, The Fed dan Konflik Membayangi

Harga emas kembali mendapat dukungan pada perdagangan Kamis (9/7) setelah melemah selama tiga hari beruntun. Logam mulia menguat seiring trader menimbang kembali eskalasi konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Spot gold sempat naik hingga 1,5% dan bergerak di sekitar US$4.100 per troy ounce. Pada pukul 15.44 waktu New York, emas diperdagangkan menguat 1,1% ke level US$4.120,49 per troy ounce.

Kenaikan ini terjadi setelah serangan terbaru di Iran kembali memanaskan situasi kawasan. Komando Pusat AS menyebut serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran menurutnya sudah “berakhir”. Iran kemudian membalas dengan menargetkan pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Bagi pasar emas, konflik Timur Tengah menjadi sentimen yang rumit. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya mendorong permintaan safe haven. Namun di sisi lain, risiko gangguan energi bisa memicu kenaikan harga minyak dan memperkuat tekanan inflasi.

Jika inflasi energi kembali naik, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga bisa kembali diperhitungkan pasar. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai emas mulai menemukan dukungan di atas area US$4.050 per troy ounce. Pelemahan dolar AS dan yield Treasury turut membantu harga emas memantul dari tekanan sebelumnya.

Menurut Hansen, pergerakan emas dalam 24 jam terakhir memperkuat pandangan bahwa pasar mulai bergeser dari fase kapitulasi menuju konsolidasi. Artinya, tekanan jual besar mulai mereda, tetapi emas belum tentu langsung masuk ke tren naik yang kuat.

Secara lebih luas, emas masih turun lebih dari seperlima sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Aksi ambil untung besar sebelumnya telah mengakhiri reli panjang selama tiga tahun dan beberapa kali mendorong harga emas turun ke bawah US$4.000.

Tekanan tersebut juga membuat sejumlah bank memangkas proyeksi harga emas. HSBC memangkas estimasi rata-rata harga emas 2026 sebesar 6,3% menjadi US$4.560 per troy ounce, mengikuti langkah serupa dari UBS, Deutsche Bank, dan Goldman Sachs.

Di pasar logam mulia lainnya, perak ikut menguat 2,8% ke level US$59,91 per troy ounce. Platinum dan palladium juga bergerak naik, sementara indeks dolar Bloomberg relatif tidak banyak berubah.

Bagi market, rebound emas saat ini memberi sinyal bahwa tekanan jual mulai tertahan. Namun, reli masih belum sepenuhnya aman selama konflik Timur Tengah berisiko mendorong inflasi energi dan membuat The Fed tetap hawkish.(arl) PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : Newsmaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.