
PT Rifan Financindo – Emas Jatuh, Iran dan The Fed Jadi Tekanan Besar
Harga emas kembali melemah pada awal perdagangan sesi Asia , Kamis (09/7), dengan XAU/USD bergerak di sekitar level US$4.075 per troy ounce. Tekanan ini membuat emas bertahan di bawah area US$4.100, setelah pasar kembali dibuat waspada oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pelemahan emas terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah “berakhir”. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik kedua negara bisa kembali meningkat dan mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama jalur penting perdagangan energi di Selat Hormuz.
Trump juga mengancam akan kembali membombardir Iran untuk hari kedua serta membuka peluang memberlakukan kembali blokade laut AS. Ancaman ini muncul setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar khawatir pasokan minyak global dapat terganggu.
Kenaikan risiko geopolitik biasanya dapat mendukung emas sebagai aset safe haven. Namun kali ini, emas justru tertekan karena pasar lebih fokus pada dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi. Jika harga minyak terus naik, tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dan membuat Federal Reserve sulit menurunkan suku bunga.
Ekspektasi suku bunga tinggi menjadi beban besar bagi emas. Logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik ketika pasar memperkirakan suku bunga dan yield obligasi tetap tinggi lebih lama. Pedagang swap kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya lebih dari 30%, naik dari kurang dari 20% pada pekan lalu.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat The Fed pada 16–17 Juni menunjukkan bahwa sejumlah pejabat melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga, meski akhirnya tetap mendukung keputusan menahan suku bunga. Risalah tersebut juga mencerminkan kekhawatiran The Fed terhadap inflasi yang masih tinggi, sementara kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja sedikit mereda. Dengan kondisi ini, emas masih berisiko tertekan selama konflik AS-Iran dan ekspektasi suku bunga tinggi tetap membayangi pasar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Risalah The Fed dan Iran Tekan Emas
Harga emas melemah tajam pada perdagangan Rabu (8/7) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah “berakhir”. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali khawatir bahwa konflik baru dapat mendorong harga energi naik dan memicu tekanan inflasi.
Emas sempat turun hingga 2,1% ke bawah US$4.021 per troy ounce sebelum memangkas sebagian pelemahan. Pergerakan ini membuat emas menuju penurunan harian ketiga berturut-turut. Pada pukul 16.00 waktu New York, emas spot turun 0,7% ke level US$4.076,48 per troy ounce.
Tekanan terhadap emas muncul setelah AS melancarkan serangan baru ke Iran dan mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan penjualan minyak Iran. Langkah ini diambil setelah Iran dituduh menyerang kapal dagang di sekitar Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak melonjak dan kembali menyalakan kekhawatiran inflasi energi.
Kenaikan harga minyak dapat membuat Federal Reserve lebih sulit untuk melonggarkan kebijakan moneter. Jika inflasi kembali naik, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga. Kondisi ini menjadi beban bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Risalah rapat FOMC pada 16–17 Juni juga menunjukkan bahwa beberapa pejabat The Fed melihat alasan untuk menaikkan suku bunga, meski akhirnya tetap mendukung keputusan menahan suku bunga. Secara umum, risalah tersebut memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat, sementara kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja sedikit mereda.
Secara teknikal, area US$4.000 menjadi level penting yang kembali dipantau pasar. Jika tekanan jual berlanjut, emas berisiko kembali menguji level tersebut. Namun, untuk menembus jauh dan bertahan di bawah US$4.000, pasar kemungkinan membutuhkan dorongan tambahan seperti kenaikan yield riil, penguatan ekspektasi suku bunga tinggi, dan aksi likuidasi posisi yang lebih besar. (arl) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
