
PT Rifan Financindo – Emas Stabil di Bawah US$4.400, Pasar Timbang Fed dan Hormuz
Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (14/08) setelah sebelumnya turun dari level tertinggi dalam 10 minggu. Emas spot naik tipis sekitar 0,2% ke area US$4.359,73 per troy ons setelah terkoreksi 1,3% pada sesi Kamis, tetapi masih berada di jalur kenaikan untuk pekan kedua berturut-turut.
Sentimen fundamental emas tetap mendapat dukungan dari data inflasi AS yang relatif terkendali. Perlambatan tekanan harga pada Juli menunjukkan dampak lonjakan energi akibat konflik Iran mulai mereda, sehingga mengurangi urgensi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga secara agresif.
Pasar uang saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September hanya sekitar sepertiga. Investor selanjutnya akan mencermati data tenaga kerja AS berikutnya serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada akhir Agustus untuk mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter.
Namun, emas masih menghadapi risiko dari suku bunga yang tetap tinggi dalam waktu lama. Meskipun tidak adanya Fed hike menjadi sentimen positif, yield obligasi yang bertahan tinggi dapat membuat Treasury lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Dari sisi geopolitik, ketegangan Timur Tengah tetap menjadi penopang safe haven. Setiap eskalasi baru antara AS dan Iran berpotensi kembali mengerek harga energi dan risiko inflasi. Di sisi lain, pembelian bank sentral, terutama China, masih membantu menjaga permintaan emas setelah harga kembali pulih dari area US$4.000 dalam beberapa pekan terakhir.
Analisis Newsmaker: Fundamental emas masih cenderung konstruktif, tetapi momentum teknikal mulai kehilangan tenaga setelah reli tajam. Kegagalan bertahan di atas US$4.400 membuka peluang konsolidasi jangka pendek di sekitar US$4.350–US$4.300. Namun, jika ekspektasi Fed hike terus menurun dan ketegangan Hormuz meningkat, emas masih memiliki peluang kembali menguji US$4.400 hingga area puncak sebelumnya.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Turun Ditengah Aksi Profit Taking
Harga emas turun lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (13/8) setelah investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Emas spot melemah sekitar 1,2% ke US$4.354,58 per troy ons setelah sebelumnya sempat menyentuh US$4.449,39.
Tekanan jual meningkat ketika emas kembali gagal mendekati area psikologis US$4.500. Level tersebut dinilai menjadi resistance kuat setelah beberapa kali upaya kenaikan gagal bertahan, mendorong trader mengamankan keuntungan setelah reli tajam dalam beberapa sesi terakhir.
Dari sisi fundamental, data PPI AS Juli tercatat tidak berubah secara bulanan karena penurunan harga barang mengimbangi kenaikan biaya jasa. Data tersebut menyusul CPI yang menunjukkan inflasi tahunan melandai menjadi 3,4% dari 3,5% pada Juni, sehingga tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September mulai berkurang.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga September sekitar 35%, turun dari sekitar 40% sesaat setelah data PPI dirilis. Meski demikian, beberapa pejabat The Fed masih mempertahankan pandangan hawkish, termasuk Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack yang kembali menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan.
Koreksi emas juga terjadi setelah harga sebelumnya melonjak sekitar 9% dalam satu pekan, didukung pembelian investor China dan ritel. Kondisi tersebut membuat aksi profit taking semakin besar ketika emas mendekati moving average penting dan resistance US$4.500. Silver, platinum, dan palladium juga ikut melemah.
Analisis Newsmaker: Penurunan emas saat ini lebih mencerminkan profit taking setelah reli tajam daripada perubahan fundamental menjadi bearish. CPI dan PPI yang relatif terkendali serta menurunnya peluang Fed hike masih menjadi dukungan bagi emas. Namun, kegagalan menembus US$4.450-US$4.500 menunjukkan resistance masih kuat. Jika tekanan jual berlanjut, gold berisiko menguji US$4.350 dan US$4.300 sebelum mencoba membangun momentum naik kembali.(yds) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
