Berita Emas 9 Oktober 2026

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (9/10) sesi Asia, setelah mencatat penguatan moderat pada sesi sebelumnya. Gold (XAU/USD) berada di sekitar US$4.146 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan. Pergerakan emas dipengaruhi oleh tarik-menarik antara ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Dari sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela November memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk mengurangi kekhawatiran terhadap eskalasi konflik. Trump juga mengatakan pembicaraan dengan Iran berlangsung produktif. Namun, risiko belum sepenuhnya mereda karena Iran masih meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, sementara ancaman terhadap jalur perdagangan energi tetap menjadi perhatian investor.

Di sisi moneter, pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi peluang kenaikan dalam beberapa bulan berikutnya tetap terbuka. Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem mengatakan suku bunga kemungkinan perlu dinaikkan dalam enam hingga sembilan bulan ke depan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target 2%. Prospek suku bunga yang lebih tinggi menjadi tantangan bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, harga minyak mulai menurun setelah sebelumnya melonjak akibat risiko geopolitik dan gangguan produksi. Penurunan harga energi dapat membantu meredakan kekhawatiran inflasi, tetapi risiko pasokan belum hilang sepenuhnya karena badai yang mengancam produksi minyak di Teluk Meksiko AS. Jika harga energi kembali naik akibat gangguan pasokan atau eskalasi konflik, ekspektasi inflasi dan kebijakan The Fed dapat kembali berubah.

Newsmaker melihat, emas masih berada dalam fase konsolidasi dengan dua katalis utama yang saling berlawanan. Penurunan yield dan meningkatnya permintaan safe haven dapat memberikan ruang bagi emas untuk rebound, sementara penguatan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali menekan harga. Untuk jangka pendek, investor perlu mencermati arah yield Treasury, dolar AS, perkembangan AS-Iran, serta pernyataan pejabat The Fed untuk menentukan apakah rebound emas mampu berlanjut atau justru kembali menguji level rendah sebelumnya.

Harga emas kembali sedikit menguat pada perdagangan Kamis (8/10) setelah sebelumnya jatuh lebih dari 1% dan menyentuh level terendah dalam dua bulan. Emas spot naik 0,4% ke sekitar US$4.126,78 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% ke US$4.157. Rebound terjadi ketika investor mulai menimbang ketidakpastian arah suku bunga The Fed dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap tingginya utang pemerintah AS.

Di satu sisi, dolar AS dan yield Treasury masih berada di level tinggi, sehingga menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Yield Treasury AS 10 tahun tetap elevated untuk sesi kedua berturut-turut. Suku bunga tinggi biasanya meningkatkan opportunity cost memegang emas karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan yield lebih menarik. Kondisi tersebut sebelumnya menjadi salah satu pemicu tekanan tajam terhadap harga emas.

Namun, perhatian pasar mulai bergeser pada risiko fiskal dan meningkatnya beban utang pemerintah. Kekhawatiran terhadap membesarnya utang AS membuat sebagian investor kembali melihat emas sebagai aset alternatif terhadap aset berbasis mata uang fiat dan surat utang pemerintah. Pada saat yang sama, FOMC Minutes menunjukkan belum adanya konsensus penuh mengenai jalur suku bunga berikutnya, dengan sebagian pejabat melihat kenaikan diperlukan untuk meredam dampak kenaikan harga energi, sementara kelompok yang lebih hawkish menilai kenaikan diperlukan untuk menghadapi risiko inflasi dari sisi permintaan.

Ketidakpastian tersebut semakin terlihat dari pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller, yang mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan, tetapi pelaksanaannya tidak harus dilakukan secara berurutan. Pasar kini hanya memperkirakan peluang sekitar 17% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan pada Desember berada di sekitar 81%. Artinya, tekanan terhadap emas masih ada, tetapi pasar juga belum sepenuhnya mengantisipasi jalur kenaikan suku bunga yang agresif dalam waktu dekat.

Newsmaker melihat, emas saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara tekanan yield dan dolar dengan meningkatnya permintaan sebagai aset lindung nilai. Dalam jangka pendek, selama yield Treasury tetap tinggi, emas masih berisiko mengalami volatilitas dan tekanan lanjutan. Namun, jika kekhawatiran terhadap utang AS semakin besar, yield mulai turun, atau ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali berkurang, ruang rebound emas dapat semakin terbuka. Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz juga perlu diperhatikan karena gangguan energi dapat kembali meningkatkan inflasi sekaligus memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed. PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : Newsmaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.