Berita Emas 23 Oktober 2026

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (23/10/2026), dengan emas spot (XAU/USD) merosot ke sekitar US$4.025 per troy ounce pada awal sesi Asia. Penurunan tersebut membawa emas ke level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir, sekaligus memperpanjang tekanan jual di pasar logam mulia. Menariknya, pelemahan emas terjadi ketika ketegangan geopolitik Timur Tengah semakin memanas, kondisi yang biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset aman.

Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan emas. Serangan mematikan di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global dan memicu risiko lonjakan inflasi akibat kenaikan biaya bahan bakar. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang sebuah bandara di wilayah timur Arab Saudi, sementara sebuah drone dilaporkan berhasil dicegat ketika berupaya menyerang fasilitas pengolahan milik Saudi Aramco di ladang minyak Shaybah. Ketegangan tersebut membuat pasar semakin khawatir terhadap potensi gangguan distribusi energi.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi Amerika Serikat, sehingga meningkatkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi, aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS menjadi relatif lebih menarik, sehingga dapat mengurangi minat investor untuk memegang emas.

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan tersebut, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai 92,8%. Namun, pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember. Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya juga belum memberikan petunjuk pasti mengenai keputusan Oktober, meskipun data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan tetap menjadi perhatian utama bank sentral.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih menghadapi tekanan selama harga minyak bertahan tinggi dan ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed belum mereda. Jika tekanan jual berlanjut, level psikologis US$4.000 berpotensi menjadi perhatian berikutnya bagi pelaku pasar. Sebaliknya, meredanya kekhawatiran inflasi atau munculnya sinyal kebijakan The Fed yang lebih lunak dapat membuka peluang pemulihan. Kini pertanyaan terbesar pasar adalah apakah emas mampu bertahan di atas US$4.000 atau justru melanjutkan penurunan menjelang keputusan suku bunga AS pekan depan.

Harga emas berjangka di bursa COMEX New York ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) dan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 2,2% dan menetap di US$4.060,40 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas COMEX untuk pengiriman Oktober merosot 2,12% atau US$87,70 menjadi US$4.042,80 per troy ounce, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 28 September. Pelemahan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan jual di pasar logam mulia ketika investor kembali mempertimbangkan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sejalan dengan pelemahan pasar berjangka, harga emas spot (XAU/USD) turut mengalami penurunan signifikan. Emas spot merosot 2,9% menjadi US$4.022,39 per troy ounce, menyentuh level terendah sejak 3 Agustus 2026. Penurunan harga emas terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah sekitar 4% hingga mencapai posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir. Eskalasi konflik Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi di Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi global.

Lonjakan harga energi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Data inflasi konsumen dan produsen AS yang sebelumnya melampaui perkiraan turut meningkatkan kekhawatiran terhadap berlanjutnya tekanan harga. Meskipun pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober mendatang, pelaku pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sebesar sekitar 78%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Prospek kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor yang membatasi daya tarik emas, meskipun logam mulia tersebut secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas tinggi seiring ketidakpastian harga energi, perkembangan konflik Timur Tengah, serta arah kebijakan moneter AS. Investor juga menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada 29 Oktober yang berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai langkah The Fed berikutnya. Area psikologis US$4.000 per troy ounce kini menjadi perhatian pasar apabila tekanan jual berlanjut. Sebaliknya, meredanya kekhawatiran inflasi dan melemahnya imbal hasil obligasi AS dapat membuka peluang pemulihan emas. Namun, selama ekspektasi pengetatan moneter masih kuat, ruang penguatan logam mulia berpotensi tetap terbatas.(mrv) PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.