
PT Rifan – Harga emas dunia bergerak relatif stabil di sekitar US$4.000 per troy ounce pada perdagangan Jumat, tetapi masih berada di jalur penurunan bulanan kedua berturut-turut. Emas spot turun tipis 0,2% menjadi sekitar US$4.014,44 per troy ounce setelah sempat melemah 1,1% pada sesi sebelumnya.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah data inflasi AS kembali menunjukkan kenaikan. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,5% pada September, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Maret. Tingginya tekanan harga, terutama dari sektor energi, memperkuat peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Sepanjang Oktober, emas telah melemah lebih dari 3%. Kekhawatiran terhadap potensi kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah menjaga harga energi tetap tinggi dan memperumit upaya The Fed menekan inflasi. Harga minyak juga masih mendapat dukungan dari kekhawatiran mengenai kemungkinan operasi militer baru AS terhadap Iran setelah pemilu sela.
Emas juga tetap rentan terhadap volatilitas pasar saham global. Kekhawatiran mengenai besarnya belanja perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan telah memicu tekanan pada saham teknologi. Aksi jual saham sebelumnya bahkan mendorong sejumlah investor melepas emas untuk menutup kerugian di aset lain, membawa logam mulia sempat menyentuh level terendah sejak Juli.
Dalam jangka pendek, level psikologis US$4.000 tetap menjadi area penting bagi XAU/USD. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan tekanan inflasi energi berpotensi membatasi pemulihan emas, sementara meningkatnya ketegangan geopolitik dan permintaan aset safe haven masih dapat memberikan dukungan apabila risiko global kembali meningkat.
Harga emas dunia kembali mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember. Emas spot (XAU/USD) merosot 1,4% menjadi US$4.008,76 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 0,5% dan ditutup pada US$4.031,40 per troy ounce. Pelemahan tersebut menempatkan emas di jalur penurunan bulanan kedua berturut-turut, mencerminkan tekanan jual yang masih mendominasi pasar logam mulia. Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator harga yang menjadi acuan utama The Fed, menunjukkan percepatan akibat kenaikan biaya energi dan sejumlah barang konsumsi.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah laporan Departemen Perdagangan AS menunjukkan indeks harga PCE September meningkat 0,5% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi PCE mencapai 3,6%, sementara inflasi inti yang mengecualikan makanan dan energi berada di level 3,1%, masih melampaui target inflasi The Fed sebesar 2%. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya terkendali meskipun kebijakan moneter telah berada pada tingkat yang ketat. Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menilai persistennya inflasi menjadi faktor utama yang membatasi daya tarik emas. Dengan meningkatnya kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut, investor cenderung mempertimbangkan instrumen berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas.
Sebelumnya, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Rabu (28/10/2026), sesuai ekspektasi pasar. Namun, keputusan tersebut belum menghilangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun, terutama setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih cukup kuat. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan pasar, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 80%.
Ekspektasi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap emas melalui penguatan dolar AS dan meningkatnya biaya peluang kepemilikan logam mulia. Investor kini akan mencermati perkembangan inflasi, harga energi, serta pernyataan pejabat The Fed untuk menilai arah kebijakan moneter dan prospek emas menjelang akhir tahun.
Kesimpulan
Inflasi AS yang masih tinggi menjadi hambatan utama pemulihan emas. Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober, meningkatnya ekspektasi kenaikan pada Desember membuat investor cenderung berhati-hati terhadap logam mulia.
Secara teknikal, area US$4.000 menjadi support psikologis yang penting bagi XAU/USD. Penembusan berkelanjutan di bawah level tersebut dapat memperbesar tekanan jual, sedangkan pemulihan menuju US$4.050–4.100 dapat menjadi indikasi awal meredanya tekanan, meskipun belum memastikan pembalikan tren.
Dampak terhadap market: Data PCE yang tinggi cenderung mendukung dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi, sementara emas berisiko tetap tertekan selama inflasi belum menunjukkan perlambatan yang meyakinkan. PT Rifan.
Sumber : NewsMaker
