
Rifan Financindo – Emas Dekat Rekor, Ketegangan Politik AS Bikin Investor Was-Was
Harga emas dunia masih bertahan dekat level tertingginya sepanjang sejarah, diperdagangkan di kisaran $3.773 per ounce saat pasar Asia dibuka pagi ini. Hanya terpaut kurang dari $20 dari rekor yang tercetak Selasa lalu. Dalam sepekan terakhir, harga emas naik 2% didorong lonjakan permintaan dari investor institusi lewat ETF, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk antara Rusia dan Eropa.
Fokus utama investor saat ini adalah potensi government shutdown di AS. Jika pemerintah AS gagal mencapai kesepakatan anggaran sebelum Selasa, maka rilis data tenaga kerja penting seperti Non-Farm Payrolls Jumat nanti bisa tertunda. Ini bisa membuat arah kebijakan suku bunga The Fed jadi makin buram, karena NFP adalah salah satu acuan utama bank sentral.
Di tengah ketidakpastian itu, emas jadi incaran karena dianggap sebagai aset aman. Apalagi, jika data tenaga kerja yang akhirnya keluar nanti ternyata lemah, potensi pemangkasan suku bunga The Fed akan makin besar. Ini bisa makin mendorong harga emas karena suku bunga rendah bikin emas yang nggak punya imbal hasil jadi lebih menarik.
Bukan cuma emas, harga perak juga ikut naik tajam. Perak sempat menembus $45 per ounce minggu lalu, level tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Lonjakan permintaan lewat ETF membuat pasokan fisik makin ketat, dan biaya pinjam perak (lease rate) melonjak hingga di atas 5%, jauh dari normalnya yang nyaris nol.(ads)
Sumber: Bloomberg
Inflasi Sesuai Ekspektasi – Harga Emas Naik Lagi
Emas menguat pada hari Jumat (26/9) setelah data inflasi AS sesuai dengan ekspektasi, memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan melanjutkan pemangkasan suku bunga akhir tahun ini.
Emas spot naik 0,8% menjadi $3.778,62 per ons pada pukul 13.30 EDT (17.30 GMT), setelah mencapai rekor $3.790,82 di awal pekan. Logam mulia ini telah naik sekitar 2,5% minggu ini.
Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 1% lebih tinggi di $3.809.
“Data PCE bulanan sesuai, meskipun pendapatan dan pengeluaran pribadi hanya sepersepuluh di atas ekspektasi. Tidak ada dari data ini yang akan menghalangi The Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga secara hati-hati pada pertemuan bulan Oktober,” kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen.
Data menunjukkan bahwa indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS naik 2,7% year-on-year pada bulan Agustus, sejalan dengan ekspektasi para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.
Investor kini melihat probabilitas penurunan suku bunga sebesar 88% pada bulan Oktober dan peluang penurunan suku bunga sebesar 65% pada bulan Desember, menurut CME FedWatch Tool.
Pasar juga akan mencermati pernyataan dari Presiden Fed Richmond, Thomas Barkin, dan Wakil Ketua Fed, Michelle Bowman, di kemudian hari untuk mendapatkan petunjuk mengenai sikap Fed.
Emas, yang merupakan aset safe haven tradisional, biasanya diuntungkan oleh suku bunga yang lebih rendah.
Di sisi perdagangan, Presiden Donald Trump mengumumkan putaran tarif baru untuk obat-obatan, truk, dan furnitur impor, yang berlaku efektif 1 Oktober.
Di antara logam lainnya, perak spot naik 2,6% menjadi $46,41 per ons, mencapai level tertinggi dalam lebih dari 14 tahun, sementara paladium naik 2,8% menjadi $1.284,77, yang membuatnya berada di jalur untuk kenaikan mingguan. Platinum naik 2,5% menjadi $1.568,21, level tertinggi dalam lebih dari 12 tahun.
Para analis dan pedagang mencatat bahwa perak dan platinum sedang mendapatkan momentum di tengah kenaikan harga emas, dengan investor beralih ke alternatif yang lebih terjangkau.
“Janji Presiden Tiongkok Xi untuk mengurangi emisi karbon bersih Tiongkok sebesar 7-10% pada tahun 2035 juga telah mendorong pembelian perak yang digunakan dalam sel surya,” kata Wong.
Ia mencatat bahwa sentimen tersebut semakin didukung oleh keadaan kahar Freeport di tambang tembaga Grasberg. (Arl) Rifan Financindo.
Sumber: NewsMaker
