
Rifan Financindo – Emas Diam-Diam Menguat, Ada Sinyal Besar dari The Fed
Harga emas terpantau stabil pada sesi perdagangan pagi di Asia. Logam mulia ini mendapat dukungan dari prospek penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), yang biasanya membuat emas lebih menarik karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Analis pasar Global Macro di FOREX.com, Fawad Razaqzada, menyebut bahwa kondisi suku bunga di AS membuka peluang perubahan kebijakan. Menurutnya, dengan suku bunga utama tahunan AS berada di kisaran 2,7%, peluang pemangkasan suku bunga Fed bisa terjadi lebih awal, bahkan pada tahun 2026.
Ia juga menilai prospek jangka pendek emas masih cukup positif. Harga emas saat ini disebut semakin dekat dengan rekor tertinggi yang tercapai pada Oktober lalu, dan jaraknya kini tidak terlalu jauh.
Sementara itu, harga emas spot tercatat relatif tidak banyak bergerak. Pada perdagangan terakhir, emas diperdagangkan di level $4.333,75 per ons, mencerminkan sikap pasar yang masih menunggu arah kebijakan suku bunga selanjutnya. (az)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Turun Tipis Usai Data CPI AS
Harga emas melemah tipis pada Kamis (18/12) ketika pasar mencerna data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi, meski dukungan dari tingkat pengangguran November yang lebih tinggi membatasi penurunan lebih lanjut.
Emas spot turun 0,2% menjadi $4.330,39 per ounce pada pukul 02:26 siang waktu ET (19:26 GMT). Emas batangan sempat menyentuh rekor tertinggi $4.381,21 pada 20 Oktober, dan sebelumnya pada sesi ini masih bergerak di dekat level tersebut.
“Sekarang inflasi terlihat turun lebih cepat dari perkiraan, hal ini mengurangi daya tarik membeli ‘asuransi’ terhadap inflasi. Emas adalah lindung nilai inflasi utama, jadi pelemahannya cukup masuk akal setelah laporan CPI,” kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Data menunjukkan harga konsumen AS naik 2,7% secara tahunan (yoy) pada November, lebih rendah dari perkiraan 3,1% menurut survei ekonom Reuters. Setelah rilis data ini, kontrak berjangka suku bunga federal funds memperhitungkan peluang yang sedikit lebih besar bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Januari.
“Perlu diingat, salah satu alasan emas naik begitu tajam selama beberapa tahun terakhir adalah karena inflasi tinggi menggerus nilai mata uang fiat,” tambah Razaqzada.
Aset tanpa imbal hasil seperti emas biasanya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah, dan dikenal sebagai instrumen lindung nilai inflasi.
“Tren emas masih sangat positif dan pada akhirnya diperkirakan akan terjadi penembusan ke atas (upside breakout) dari tren tersebut. Target kenaikan saya ada di $4.515,63 dan $5.000 juga masih menjadi target yang valid,” kata Peter Grant, wakil presiden sekaligus senior metals strategist di Zaner Metals.
Perak spot turun 1,5% menjadi $65,3 per ounce, mundur dari rekor tertinggi $66,88 yang dicapai pada sesi sebelumnya. Perak mengungguli emas tahun ini, naik 126% sejak awal tahun (YTD) didorong permintaan investasi dan kekhawatiran defisit pasokan.
Platinum naik 1,2% menjadi $1.922,05, level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun, sementara palladium melonjak 3,7% menjadi $1.708,72, mendekati level tertinggi dalam hampir tiga tahun.(yds) Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
