
PT Rifan – Emas Stabil, Tapi ‘Risiko Besar’ Belum Selesai?
Harga emas spot bergerak stabil di awal pekan, ditopang aksi bargain hunting (aksi beli) setelah tekanan tajam beberapa pekan terakhir, meski pasar masih menilai konflik Iran yang memasuki pekan kelima akan menjaga volatilitas tinggi. XAU/USD berada di sekitar $4.437 per ons pada sesi Asia, sedikit terkoreksi dari penguatan sebelumnya.
Minat beli saat harga turun mulai muncul setelah pelemahan besar sejak perang dimulai. Namun, kekhawatiran tetap ada bahwa konflik berkepanjangan dapat mengangkat inflasi melalui kanal energi, menjaga ekspektasi suku bunga lebih ketat dan menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi aliran, pasar juga mencermati risiko penjualan cadangan emas oleh bank sentral. Reuters melaporkan cadangan emas bank sentral Turki turun tajam, seiring langkah penjualan dan swap emas setelah perang Iran, menambah tekanan jangka pendek pada bullion.
Ke depan, arah emas sangat ditentukan oleh tiga variabel: eskalasi atau jeda konflik (dan dampaknya ke minyak), pergerakan dolar, serta perubahan ekspektasi suku bunga AS yang memengaruhi opportunity cost memegang emas.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Menuju Kenaikan Mingguan Pertama Sejak Perang Timur Tengah Dimulai
Harga emas mencatat pemulihan dan berpeluang membukukan kenaikan mingguan pertama sejak perang AS–Israel melawan Iran dimulai, seiring aksi bargain hunting menguat setelah penurunan harga beberapa pekan terakhir. Pada Jumat, emas sempat naik hingga 4,1% dan menembus $4.550/oz, sekaligus menutup kembali pelemahan sesi sebelumnya.
Pemulihan ini terjadi setelah emas tertekan dalam beberapa pekan terakhir, ketika konflik mendorong lonjakan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi yang meningkatkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi—bahkan membuka ruang pengetatan—yang menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Meski menguat, tekanan bearish belum sepenuhnya hilang. Keraguan terhadap peluang gencatan senjata tetap tinggi di tengah eskalasi terbaru: AS dan Israel dilaporkan menyerang fasilitas nuklir dan baja Iran, sementara Teheran membalas di kawasan Teluk Persia. Ketegangan ini menekan sentimen pasar dan kembali mengangkat harga minyak. Pergerakan tersebut terjadi setelah Trump berjanji menahan serangan terhadap situs energi Iran selama 10 hari tambahan—memberi jeda singkat yang membantu emas bernapas.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, emas masih turun hampir 15%, cenderung bergerak searah dengan saham dan berlawanan arah dengan minyak. Analis TD Securities menilai emas saat ini lebih banyak “diperdagangkan layaknya aset berisiko”, bukan murni safe haven.
Tekanan tambahan datang dari sisi bank sentral. Bank sentral Turki dilaporkan menjual dan melakukan swap sekitar 60 ton emas dalam dua pekan (senilai lebih dari $8 miliar). Padahal, pembelian bank sentral selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pilar reli emas. Jika institusi moneter lain mengikuti langkah Turki, laju pembelian bisa melambat dan asumsi jangka panjang—bahwa bank sentral enggan menjual emas—mulai dipertanyakan.
Daniel Ghali, senior commodity strategist TD Securities, menyebut konflik ini menimbulkan kerusakan ekonomi yang signifikan bagi negara-negara Timur Tengah—sebagian di antaranya merupakan pembeli emas sektor resmi. Ia menilai tren penjualan bisa lebih luas pada negara pengimpor energi, karena shock biaya energi dapat mengurangi kemampuan membeli emas atau bahkan memaksa sebagian bank sentral menjual cadangan untuk memenuhi kewajiban berbasis dolar.
Di sisi logistik, Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, serta arus bahan pangan, logam, dan komoditas lain—masih sebagian besar tertutup ketika perang mendekati satu bulan, menjaga volatilitas pasar tetap tinggi.
Pada pembaruan terakhir, emas spot naik 3,2% menjadi $4.515,26/oz pada 15:58 waktu New York. Perak menguat 2,7% mendekati $70, sementara platinum dan palladium juga naik. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2% setelah pada sesi sebelumnya ditutup naik 0,4%.(mrv) PT Rifan.
Sumber : NewsMaker
