
PT Rifan – Emas Bergerak Datar, Awas! Ini Arah Selanjutnya!
Emas bergerak stabil setelah turun dua hari berturut-turut, ketika pelaku pasar menimbang ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan infrastruktur Iran serta dampak perang yang berkepanjangan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Pada perdagangan awal, bullion berada di sekitar US$4.660 per ons.
Stabilnya harga terjadi setelah emas terkoreksi lebih dari 2% dalam dua sesi sebelumnya. Trump menetapkan tenggat Selasa pukul 8 malam Waktu Timur AS untuk tercapainya kesepakatan dengan Teheran, atau AS akan memulai serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan, yang meningkatkan risiko eskalasi di tengah konflik yang sudah memicu pengetatan pasokan energi global.
Perang yang kini memasuki pekan keenam memperbesar peluang bank sentral menunda pemangkasan suku bunga, bahkan membuka ruang pengetatan lebih lanjut, seiring kekhawatiran inflasi akibat guncangan pasokan energi. Di AS, pasar obligasi mempertahankan penguatan terbatas, dengan ekspektasi pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga hingga akhir tahun.
Kondisi suku bunga tinggi biasanya membebani emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, tekanan biaya dari guncangan pasokan energi juga dinilai menekan pertumbuhan ekonomi, yang dapat kembali menguatkan permintaan emas sebagai aset defensif, terutama ketika indikator ekonomi menunjukkan perlambatan.
Data terbaru menunjukkan sektor jasa AS melambat pada Maret, dengan penurunan tenaga kerja terbesar sejak 2023 dan kenaikan harga input yang menguat tajam. Di sisi lain, emas telah turun sekitar 12% sejak konflik di Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, karena daya tarik safe haven melemah ketika investor melakukan likuidasi untuk menutup kerugian di aset lain.
Dalam perkembangan geopolitik, Trump menegaskan Selat Hormuz harus dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan, sementara jalur maritim tersebut disebut masih largely tertutup bagi pengapalan sejak konflik dimulai. Spot gold naik tipis 0,2% menjadi US$4.659,25 per ons pada 07.08 waktu Singapura; indeks dolar Bloomberg datar, sementara pergerakan logam mulia lain cenderung menguat terbatas.
5 Poin Terpenting :
- Emas stabil di sekitar US$4.660/ons setelah turun lebih dari 2% dalam dua sesi.
- Ultimatum Trump ke Iran hingga Selasa 20.00 ET meningkatkan risiko eskalasi konflik.
- Guncangan pasokan energi memicu kekhawatiran inflasi, berpotensi menunda pemangkasan suku bunga bank sentral.
- Suku bunga tinggi membebani emas, tetapi risiko perlambatan pertumbuhan dapat mendukung permintaan defensif.
- Emas turun sekitar 12% sejak akhir Februari, antara lain karena likuidasi investor, dan bergerak cenderung berlawanan arah dengan minyak yang kembali menguat.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Turun Tipis saat Tenggat Trump soal Perang Iran Kian Dekat
Harga emas melemah tipis pada Senin ketika investor menunggu sinyal lanjutan terkait perkembangan situasi AS-Iran, menjelang tenggat pembukaan kembali Selat Hormuz. Emas spot turun 0,4% menjadi US$4.654,99 per ounce pada 13:31 ET (17:31 GMT). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,1% di US$4.684,70.
Iran mengatakan pihaknya menginginkan akhir perang yang bersifat permanen dengan AS dan Israel, serta menolak tekanan untuk segera membuka Selat Hormuz di bawah skema gencatan senjata sementara. Pernyataan itu muncul ketika kedua pihak mempertimbangkan sebuah kerangka untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lima pekan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan “mencurahkan neraka” ke Teheran jika tidak ada kesepakatan hingga Selasa. Pasar menilai kombinasi tenggat politik dan risiko gangguan energi membuat volatilitas tetap tinggi, terutama pada minyak dan aset lindung nilai.
“Fokus kemungkinan tetap pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut, minyak akan bergerak naik seiring kondisi pasokan yang makin ketat, menambah tekanan inflasi,” kata Bart Melek, global head of commodity strategy di TD Securities. Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat bank sentral, terutama Federal Reserve, memiliki ruang lebih sempit untuk melonggarkan kebijakan, bahkan bisa memunculkan kembali diskusi kenaikan suku bunga jika harga energi terus naik, yang biasanya menjadi faktor negatif bagi emas.
Harga minyak naik tipis dalam perdagangan yang bergejolak pada Senin dan telah meningkat tajam sejak konflik dimulai. Emas secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi, namun karena tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi.(mrv) PT Rifan.
Sumber : NewsMaker
