
PT Rifan Financindo – Emas Stabil di Dekat Rekor Saat Pasar Menimbang Gencatan Senjata Iran yang Rapuh
Harga emas bergerak stabil setelah menguat dua hari beruntun, ketika pelaku pasar menilai peluang jalur diplomasi dalam perang Iran meski bentrokan sporadis masih berisiko mengganggu gencatan senjata yang dinilai rapuh.
Bullion bertahan di sekitar US$4.715 per ons, setelah naik 1,5% dalam dua sesi sebelumnya. Gedung Putih menyatakan AS akan menggelar pembicaraan langsung dengan Iran, sementara Teheran menilai serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran gencatan senjata yang baru berjalan sehari dan tetap melanjutkan serangan ke negara-negara Teluk.
Di sisi lain, Selat Hormuz disebut masih sebagian besar terblokir meski Iran memberi sinyal soal jaminan kelancaran pelayaran. Pasar energi ikut bergejolak, dengan minyak memantul setelah mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2020, sementara saham menguat dan indikator dolar AS melemah, yang cenderung menopang emas karena dihargakan dalam dolar.
Namun, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai dinilai tidak sepenuhnya dominan. Sejumlah investor disebut menjadikan emas sebagai sumber likuiditas untuk menutup kerugian di aset lain, sehingga pergerakannya dalam beberapa pekan terakhir cenderung sejalan dengan pasar saham sejak perang berlangsung.
Dari sisi kebijakan moneter, konflik yang memasuki bulan kedua memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi, yang bisa membuat bank sentral menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan mempertimbangkan kenaikan. Kondisi ini biasanya menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, meski risiko perlambatan pertumbuhan akibat perang juga dapat membuka ruang penurunan suku bunga jika pasar tenaga kerja melemah.
Pada perdagangan terakhir, spot gold turun tipis 0,1% ke US$4.715,10 per ons. Perak melemah 0,4% ke US$73,82, sementara platinum dan palladium juga turun. Indeks dolar Bloomberg relatif datar setelah turun 0,8% pada sesi sebelumnya.
5 Poin Inti:
- Emas stabil di sekitar US$4.715/ons setelah naik 1,5% dalam dua hari.
AS berencana menggelar pembicaraan langsung dengan Iran, tetapi gencatan senjata masih rapuh.
- Selat Hormuz masih banyak terblokir; ketegangan menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
- Pelemahan dolar dan penguatan saham ikut mempengaruhi harga emas, dengan fungsi “safe haven” tidak sepenuhnya dominan.
- Risiko inflasi dari lonjakan energi dapat menahan pemangkasan suku bunga, tetapi perlambatan ekonomi bisa mendorong skenario suku bunga lebih rendah.(asd)
Sumber : Newsmaker.id
Emas Pangkas Kenaikan setelah Iran Klaim Kesepakatan Ceasefire dengan AS Dilanggar
Harga emas memangkas kenaikan setelah Ketua Parlemen Iran mengatakan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat telah dilanggar. Bullion naik tipis 0,1% setelah sebelumnya sempat menguat hingga 3,2% dan menembus US$4.800 per ounce.
Mohammad-Bagher Ghalibaf menyebut tiga klausul dalam proposal gencatan senjata sejauh ini telah dilanggar. Seiring pernyataan itu, imbal hasil obligasi AS memangkas penurunan dan dolar AS mengurangi pelemahan, yang menekan emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga dan dihargakan dalam dolar.
“Gencatan senjata bilateral atau negosiasi adalah tidak masuk akal,” kata Ghalibaf dalam pernyataan di X. Ia menambahkan bahwa “dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi” telah dilanggar secara terbuka dan jelas, bahkan sebelum perundingan dimulai.
Sebelumnya, emas menguat seiring reli pasar saham global karena selera risiko pulih tajam setelah gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran krisis ekonomi global. Minyak jatuh di bawah US$100 per barel dan dolar turut melemah, sehingga sempat mendukung emas. Penurunan harga minyak juga meredakan kekhawatiran krisis energi yang dapat memicu inflasi, sehingga kembali menghidupkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah umumnya positif bagi emas.
Sejak perang di Timur Tengah dimulai, emas banyak bergerak searah dengan saham, sementara daya tariknya sebagai aset aman melemah karena sebagian investor melikuidasi posisi untuk menutup kerugian di aset lain. Agar reli bertahan, pasar menilai dibutuhkan kepastian bahwa gencatan senjata akan berlangsung dan arus energi melalui Selat Hormuz kembali normal.
“Kenaikan emas di atas US$4.800 mencerminkan penyesuaian ulang risiko, bukan perubahan rezim penuh,” kata Ahmad Assiri, strategist di Pepperstone Group Ltd. Menurutnya, pergerakan ini menunjukkan pasar mulai menghitung peluang gangguan berkepanjangan yang lebih kecil, namun masih menyisakan diskon dibanding kondisi sebelum konflik Iran.
Emas tercatat turun sekitar 10% sejak perang dimulai pada akhir Februari. Pemulihan moderat dalam beberapa hari terakhir didorong harapan gencatan senjata dan ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global dapat menahan prospek biaya pinjaman yang stabil atau lebih tinggi.
“Dalam jangka dekat, emas tetap sangat sensitif terhadap perkembangan politik,” kata Assiri. “Gencatan senjata saat ini memberi jeda, tetapi sifatnya bersyarat dan rapuh. Setiap tanda keretakan, khususnya terkait Selat Hormuz, kemungkinan akan memunculkan kembali volatilitas” sekaligus risiko penurunan, tambahnya.
Emas spot naik 0,002% menjadi US$4.706,41 per ounce pada 14:56 waktu New York. Perak naik 0,99%, sementara platinum dan paladium menguat. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,6%.(mrv) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
