
PT Rifan Financindo Berjangka – Emas Naik Tipis, Diplomasi AS–Iran Redakan Kekhawatiran Inflasi
Harga emas menguat tipis setelah dorongan baru solusi komunikasi perang Iran menenangkan kekhawatiran inflasi menuju ke arah Selat Hormuz yang masih berlanjut. Bullion naik kembali ke atas US$4.810 per ons setelah turun 1,1% pada sesi sebelumnya.
Beberapa analis menyebutkan AS dan Iran mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata dua minggu untuk memberi waktu tambahan bagi negosiasi mengakhiri konflik yang telah mengganggu pasar global. Namun, pergerakan kapal di Hormuz masih tersendat karena AS memblokade-kapal Iran, sementara Teheran mempertahankan penutupan jalur penting itu bagi sebagian besar lalu lintas lainnya.
Associated Press melaporkan kedua pihak memiliki “kesepakatan secara prinsip” untuk melanjutkan diplomasi setelah putaran pembicaraan awal di Pakistan berakhir tanpa hasil yang tegas. Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengatakan perang yang berlangsung hampir tujuh minggu “hampir berakhir.” Dalam konteks pasar, minyak cenderung stabil pada hari Kamis, saham AS ditutup di rekor pada sesi sebelumnya, dan indeks dolar melemah tipis.
Turunnya harga minyak dalam beberapa hari terakhir membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya mendorong ekspektasi suku bunga bertahan lebih lama. Meski begitu, pasar swap masih memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga tahun ini, selaras dengan komentar Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack yang menyatakan suku bunga berpotensi “bertahan” untuk waktu yang cukup lama. Suku bunga tinggi tetap menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan hasil yang tidak seimbang.
Standard Chartered menilai emas belum sepenuhnya aman karena gencatan senjata masih rapuh dan fokus pasar mulai bergeser ke imbal hasil riil, sementara kebutuhan likuiditas dapat kembali menekan harga. Di sisi arus dana, emas tercatat turun sekitar 9% sejak perang dimulai akibat tekanan likuiditas di awal konflik, tetapi tanda minat beli mulai kembali terlihat: ETF berbasis emas menambah sekitar 25 ton sepanjang bulan ini setelah pemangkasan sekitar 94 ton pada bulan Maret. Pada pukul 07.15 waktu Singapura, emas spot naik 0,5% menjadi US$4.812,95 per ons, sementara perak menguat 0,6% menjadi US$79,39.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Melemah, Pasar Cermati Dinamika AS–Iran dan Suku Bunga
Harga emas bergerak turun pada Rabu (15/4) setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan, ketika investor menilai sinyal terbaru terkait situasi AS–Iran dan implikasinya terhadap prospek suku bunga.
Emas spot turun 0,9% ke US$4.796,56 per ons, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 18 Maret pada sesi yang sama. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,6% ke US$4.820,50.
Analis Kitco Metals Jim Wyckoff menilai pergerakan itu mencerminkan aksi ambil untung yang wajar setelah harga menembus puncak semalam. Ia menambahkan, dalam beberapa sesi terakhir emas justru menguat saat minat terhadap assert berisiko membaik dan melemah saat terjadi episode risk aversion, bergerak berlawanan dengan peran tradisionalnya sebagai aset lindung nilai. Fokus pelaku pasar, menurutnya, kini lebih tertuju pada implikasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan tekanan inflasi.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang berpotensi segera dilanjutkan dan berujung kesepakatan, sembari menyebut pasar perlu “menantikan dua hari yang luar biasa.” Di saat yang sama, pasukan AS yang menerapkan blokade dilaporkan memutar balik kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran.
Harga minyak menguat seiring pengapalan melalui Selat Hormuz masih terbatas. Empat puluh lima hari setelah Garda Revolusi Iran menyatakan selat itu ditutup, lalu lintas melalui jalur tersebut disebut tetap tidak pasti meski ada gencatan senjata dua minggu.
Dari jalur kebijakan moneter, Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee pada Selasa mengatakan Federal Reserve mungkin perlu menunggu hingga 2027 untuk memangkas suku bunga jika fase harga minyak tinggi yang berkepanjangan akibat perang Iran menunda kemajuan inflasi menuju target 2% bank sentral. Pasar saat ini menilai peluang pemangkasan suku bunga AS tahun ini sebesar 31%.
Bagi emas, transmisi utamanya tetap berada pada suku bunga riil dan biaya peluang. Kenaikan suku bunga cenderung menekan emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil, sehingga dapat mengimbangi daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi. Ke depan, pasar akan memantau kelanjutan diplomasi AS–Iran, dinamika Selat Hormuz yang mempengaruhi harga energi, serta sinyal bank sentral terkait lintasan suku bunga.(mrv)* PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : NewsMaker
