
PT Rifan Financindo Berjangka – Emas Menguat, Jebakan atau Tren Baru?
Harga emas melanjutkan kenaikan pada Selasa (19/5), ditopang harapan bahwa jalur diplomasi AS–Iran dapat meredakan tekanan inflasi yang belakangan membebani logam mulia. Emas menguat meski pasar tetap mewaspadai risiko eskalasi baru di Timur Tengah.
Emas naik hingga 0,4% dan diperdagangkan di sekitar US$4.585 per ons setelah menutup sesi sebelumnya naik 0,6%. Pada 07:18 waktu Singapura, emas spot tercatat US$4.584,50 per ons.
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah mengizinkan gelombang serangan baru terhadap Iran pekan ini, namun menahan diri setelah tiga sekutu Teluk meminta waktu tambahan untuk negosiasi kesepakatan nuklir. Trump menyebut pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab meminta penundaan karena yakin bisa mendorong kesepakatan yang memenuhi tuntutan AS.
Meski demikian, proses negosiasi masih rapuh. Axios (media AS) melaporkan proposal yang disampaikan Iran melalui mediator Pakistan pada Minggu dinilai tidak menunjukkan perbaikan yang berarti, mempertegas bahwa peluang de-eskalasi belum sepenuhnya solid.
Dari sisi transmisi pasar, imbal hasil Treasury bertahan dekat level tertinggi multi-tahun, sementara harga energi yang masih tinggi terus memelihara kekhawatiran inflasi. Kombinasi yield yang tinggi dan suku bunga yang bertahan ketat biasanya membatasi penguatan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Emas juga masih bergerak dalam kisaran sempit sejak jatuh tajam pada fase awal perang dan kini tercatat turun lebih dari 13% sejak konflik pecah. OCBC menilai dinamika Timur Tengah, harga minyak, dan yield masih bisa membebani emas dalam jangka pendek, namun tetap melihat emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global. Perak naik 1,2% ke US$78,68, sementara Bloomberg Dollar Spot Index sedikit lebih rendah setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya.
Minyak Brent mengalami penurunan ke $109 per barel setelah adanya konfirmasi AS tahan serangan, hal ini meredakan kekhawatiran Inflasi sehingga Dollar mendapat sentimen hingga melemah, dan Emas Menguat.
5 poin inti:
- Emas mencoba pulih hingga 0,4%; spot di US$4.584,50 (07:18 Singapura).
- Harapan gencatan AS–Iran meredakan sebagian kekhawatiran inflasi.
- Trump menahan serangan baru setelah Qatar–Saudi–UEA minta waktu negosiasi.
- Ayu dari Newsmaker menambahkan, pasar saat ini membaca minyak sebagai pemicu utama; ketika minyak turun, dolar ikut melemah melalui ekspektasi inflasi dan suku bunga, dan emas kemudian merespons naik seperti saat ini.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Naik Tipis, Dolar Melemah tapi Yield Batasi Kenaikan
Harga emas menguat tipis pada Senin (18/5), terbantu pelemahan dolar AS yang membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli non-USD. Namun penguatan tertahan karena imbal hasil obligasi yang naik dan harga minyak yang tetap tinggi menjaga kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Emas spot naik 0,2% ke US$4.548,14 per ons pada 1:41 p.m. waktu AS, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup turun 0,1% di US$4.558.
Indeks dolar melemah sekitar 0,3% terhadap mata uang utama. Analis menilai pelemahan dolar menjadi faktor penopang jangka pendek, tetapi ruang kenaikan emas tetap dibatasi oleh kenaikan yield yang meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.
Pasar obligasi global melanjutkan penurunan, didorong kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga energi terkait perang Iran. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Februari 2025, memperkuat tekanan pada emas di tengah narasi “suku bunga tinggi lebih lama”.
Di pasar energi, minyak naik sekitar 2% ke level tertinggi dua pekan karena kekhawatiran gangguan pasokan, meski sempat melemah lebih awal setelah laporan media Iran soal kemungkinan pengecualian sanksi AS untuk minyak Iran. Sejak perang AS–Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Brent telah naik sekitar 55%, sementara emas spot turun sekitar 13,8% pada periode yang sama.
Sejumlah bank mulai menurunkan proyeksi harga emas jangka dekat karena permintaan investor melemah. J.P. Morgan memangkas perkiraan rata-rata harga emas 2026 menjadi US$5.243 per ons dari US$5.708.
Pasar kini memantau arah yield AS, pergerakan dolar, dinamika minyak, serta perkembangan konflik Iran yang akan menentukan apakah tekanan inflasi dan ekspektasi kebijakan tetap membatasi pemulihan emas.(yds) PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : NewsMaker
