
PT Rifan Financindo – Emas Tertahan, Sinyal AS–Iran yang buat Pasar Gelisah
Harga emas menahan pelemahan pada Selasa (02/6) setelah turun tajam sehari sebelumnya, ketika pasar masih mencerna pesan yang saling bertabrakan dari AS dan Iran soal jalan diplomatik untuk mengakhiri perang. Bullion bergerak di sekitar US$4.485 per troy ounce setelah jatuh 1,2% pada Senin, menandakan pelaku pasar belum berani mengambil posisi agresif di tengah ketidakpastian.
Kebingungan dipicu perkembangan terbaru di sekitar Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berjalan “dengan cepat” dan mengklaim Israel serta Hezbollah sepakat menghentikan saling serang. Di sisi lain, Iran mengancam akan menghentikan pertukaran diplomatik dan bahkan menutup penuh jalur pelayaran strategis itu. Narasi yang tidak sinkron ini membuat pasar sulit menilai apakah de-eskalasi benar-benar terjadi atau hanya bersifat sementara.
Dampaknya terlihat di aset lain. Minyak mencatat kenaikan harian terbesar dalam sekitar satu bulan pada Senin karena pasar kembali memasukkan premi risiko pasokan. Yield obligasi dan dolar AS juga naik, kombinasi yang biasanya tidak ramah untuk emas karena logam mulia tidak memberi imbal hasil dan dihargai dalam dolar.
Tekanan tambahan datang dari data ekonomi AS. Aktivitas manufaktur AS pada Mei dilaporkan ekspansif dengan laju tercepat dalam empat tahun. Dengan pertumbuhan yang tetap kuat, pasar menilai The Fed punya alasan lebih kecil untuk segera melonggarkan kebijakan demi mendorong konsumsi, sehingga narasi suku bunga “lebih tinggi lebih lama” kembali menguat.
Di titik ini, emas berada dalam posisi tarik-menarik: risiko geopolitik bisa mendukung permintaan lindung nilai, tetapi penguatan yield dan dolar menahan ruang kenaikan. Karena itu, harga cenderung stabil di area bawah setelah pelemahan Senin, sambil menunggu kepastian headline berikutnya.
Pada perdagangan Asia pukul 07:07 di Singapura, emas spot tercatat nyaris tidak berubah di US$4.486,28 per ounce. Perak naik 0,2% ke US$74,97, sementara platinum dan palladium menguat tipis. Bloomberg Dollar Spot Index datar setelah ditutup naik 0,3% pada sesi sebelumnya.
5 inti poin :
- Emas bertahan di sekitar US$4.485 setelah turun 1,2% pada Senin.
- Pesan AS–Iran saling bertentangan: Trump klaim negosiasi cepat, Iran ancam tutup Hormuz.
- Lonjakan minyak, naiknya yield, dan dolar membatasi pemulihan emas.
- Data manufaktur AS menguat, memperkecil urgensi pelonggaran The Fed.
- Pasar tetap headline-driven: arah emas bergantung pada Hormuz, dolar, dan ekspektasi suku bunga.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id
Gencatan Senjata Terancam, Emas Terkoreksi Tajam
Harga emas merosot lebih dari 1% pada Senin (1/6) ketika sentimen pasar bergeser ke netral di tengah perkembangan Timur Tengah yang kembali mengancam gencatan senjata AS–Iran. XAU/USD turun di bawah $4.490 setelah sempat menyentuh puncak harian di US$4.545, menunjukkan pemulihan emas cepat tertahan saat pasar kembali mem-price-in risiko inflasi.
Pemicu utamanya datang dari lonjakan harga minyak. Negosiasi AS–Iran disebut tersendat setelah Iran menghentikan pertukaran pesan dengan AS, sementara media Iran mengisyaratkan gencatan senjata bisa runtuh jika serangan Israel di Lebanon tidak berhenti. WTI sempat naik sekitar US$6 dan menyentuh puncak US$94,78/barel sebelum memangkas sebagian kenaikan, namun kontrak terdekat masih naik sekitar 4,5% di kisaran US$91,79. Kenaikan minyak ikut mendorong dolar, dengan DXY naik 0,22% ke 99,17, menambah tekanan pada emas yang dihargai dalam USD.
Dari sisi data, ISM Manufacturing PMI AS naik ke 54,0 pada Mei (tertinggi sejak 2022) dari 52,7 pada April, mengindikasikan ekonomi masih resilien. Namun komponen Prices Paid tetap tinggi meski turun dari 84,6 ke 82,1, menegaskan biaya input masih mahal. Kombinasi minyak yang melonjak dan input cost yang tinggi membuat pasar kembali memikirkan skenario suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar uang juga disebut mulai mem-price-in peluang kebijakan lebih ketat: peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir 2026 tercatat mendekati 68% menurut Prime Terminal. Ini menjadi beban bagi emas karena aset tanpa imbal hasil cenderung tertahan ketika ekspektasi suku bunga naik.
Fokus berikutnya pekan ini akan tertuju pada rangkaian data tenaga kerja AS jelang NFP Jumat, komentar pejabat The Fed, serta rilis Beige Book. Pasar juga mulai menatap rapat The Fed 16–17 Juni, yang akan menjadi pertemuan kebijakan pertama di bawah Ketua baru, Kevin Warsh—membuat setiap kejutan inflasi atau energi berpotensi cepat mengubah arah dolar, yield, dan emas.(Arl)* PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
