
PT Rifan – Emas Tertahan di US$4.330, Yield AS dan Hormuz Jadi Beban
Harga emas bergerak stabil di sekitar US$4.330 per troy ounce setelah melemah hampir 2% pada sesi sebelumnya. Pelemahan tersebut memutus kenaikan dua hari berturut-turut, seiring aksi penjualan di pasar obligasi mendorong imbal hasil AS naik dan memberi dukungan bagi dolar.
Peningkatan hasil menjadi tekanan utama bagi emas karena logam mulia tidak memberikan ketidakseimbangan hasil bunga. Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam hampir dua dekade, sehingga membuat aset berbunga seperti obligasi terlihat lebih menarik dibandingkan emas.
Sentimen juga diperoleh oleh kebuntuan terkait Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran, sementara nota kesepahaman yang diteken kedua negara pada bulan Juni telah berakhir tanpa rencana perpanjangan.
Ketidakpastian semakin besar setelah Uni Emirat Arab memutus perdagangan dengan Iran. Langkah ini terjadi setelah Iran menembakkan dua rudal balistik ke wilayah UEA, menjadi serangan terkonfirmasi pertama terhadap negara Teluk tersebut sejak Mei.
Dari sisi dampak pasar, emas berpotensi tetap bergerak terbatas selama imbal hasil Treasury dan dolar AS masih kuat. Fokus berikutnya menyusul rilis risalah rapat The Fed bulan Juli dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan depan. Jika risalah The Fed menunjukkan nada hawkish, XAU/USD bisa kembali tertekan; Namun, ketegangan Hormuz tetap dapat menahan penurunan karena menjaga permintaan safe haven. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Turun, Lonjakan Yield dan Minyak Jadi Penekan
Harga emas melemah tajam pada perdagangan Selasa (18/8) setelah lonjakan yield obligasi global dan kenaikan harga energi kembali menekan daya tarik logam mulia. Spot gold turun sekitar 1,1% ke US$4.364,90 per troy ons, sementara kontrak emas AS untuk Desember ditutup melemah 1,2% ke US$4.420,60.
Tekanan utama datang dari kenaikan yield obligasi jangka panjang di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Yield yang tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena bullion tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga mendorong sebagian investor mengurangi posisi.
Harga minyak yang terus menguat untuk sesi ketiga juga menambah tekanan. Kebuntuan kesepakatan damai AS-Iran, sikap militer Iran yang semakin ofensif, serta keputusan Teheran mempertahankan penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan energi. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat meningkat.
Kenaikan harga energi membuat pasar belum sepenuhnya menutup kemungkinan suku bunga tetap tinggi atau kembali dinaikkan untuk menahan inflasi. Hal ini terjadi meskipun data ekonomi AS sebelumnya menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, inflasi yang lebih terkendali, serta Retail Sales Juli yang lemah.
Meski terkoreksi, sebagian analis masih melihat prospek jangka menengah emas tetap positif. Namun, Bank of America menilai permintaan investor perlu meningkat secara signifikan jika gold ingin bergerak menuju US$5.000 per troy ons. Tekanan juga meluas ke logam lain, dengan silver, platinum, dan palladium ikut mengalami penurunan tajam.
Analisis Newsmaker: Koreksi emas saat ini masih didominasi kombinasi kenaikan yield, lonjakan minyak, dan kekhawatiran inflasi. Jika tekanan jual berlanjut dan area US$4.350 ditembus, gold berpotensi menguji US$4.320 hingga US$4.300. Sebaliknya, jika yield mulai turun dan buyer kembali masuk, pemulihan di atas US$4.400 dapat membuka peluang menuju US$4.420–US$4.450. Fokus berikutnya tertuju pada risalah FOMC yang dapat menentukan arah suku bunga dan momentum gold selanjutnya.(yds) PT Rifan.
Sumber : NewsMaker
