
Rifan Financindo – Iran–Oman Dekati Deal, Pasar Minyak Tetap Waspada
Harga minyak melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (8/9), ketika pasar menunggu detail kesepakatan Iran dan Oman mengenai pengelolaan pelayaran melalui Selat Hormuz. WTI bergerak di sekitar US$93 per barel, sementara Brent sebelumnya ditutup di US$97,31 per barel dan sempat menyentuh US$98,06, level tertinggi dalam enam pekan. Ketegangan AS–Iran yang kembali meningkat masih menjaga premi risiko energi tetap tinggi.
Iran mengatakan kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran aman melalui Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, pasar masih mempertanyakan bagaimana Amerika Serikat akan merespons, mengingat Washington menginginkan selat tersebut kembali menjadi jalur bebas seperti sebelum perang, sementara Tehran berupaya memperkuat kontrol atas lalu lintas kapal di kawasan strategis tersebut.
Risiko pasokan tetap menjadi faktor utama. Arus minyak melalui Hormuz saat ini diperkirakan hanya sekitar 7 juta barel per hari, jauh di bawah kisaran 20 juta barel per hari sebelum konflik. Gangguan tersebut menunjukkan bahwa meskipun minyak masih keluar dari Teluk Persia, kapasitas jalur itu belum kembali normal dan pasar tetap rentan terhadap setiap eskalasi baru.
Ketegangan juga meluas ke infrastruktur energi regional. Iran telah memperingatkan bahwa serangan baru terhadap asetnya akan dibalas, sementara sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk dan Laut Merah ikut menjadi sasaran dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dari kapal tanker ke fasilitas produksi dan ekspor minyak.
Di sisi permintaan, pelaku industri yang berkumpul dalam Asia Pacific Petroleum Conference di Singapura juga mencermati ketatnya persediaan global dan prospek permintaan China. Refinery China meningkatkan pembelian minyak dari Afrika, Kanada, dan Amerika Latin untuk mencari alternatif pasokan, meski langkah tersebut belum tentu mencerminkan pemulihan permintaan jangka panjang.
Bias minyak masih cenderung bullish selama arus melalui Hormuz tetap jauh di bawah kondisi normal dan konflik AS–Iran belum mereda. Deal Iran–Oman dapat mengurangi risiko gangguan pelayaran jika benar-benar memperlancar arus tanker, tetapi jika kesepakatan justru memperkuat kontrol Tehran atau memicu penolakan dari AS, premi geopolitik dapat bertahan. Brent berpeluang kembali menguji US$98 hingga US$100 apabila ketegangan meningkat.
Emas Konsolidasi, CPI AS Jadi Penentu Arah Berikutnya
Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa (8/9), bertahan di sekitar US$4.400 per troy ounce setelah kehilangan sekitar 1,5% dalam dua sesi sebelumnya. Pergerakan emas masih berada dalam tarik-menarik antara tekanan dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan dukungan dari pelemahan dolar AS serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Data tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu membuat pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sekitar 60%. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau imbal hasil. Investor kini menunggu data inflasi AS akhir pekan ini yang akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai keputusan The Fed pada pertemuan September.
Di sisi lain, emas mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS. Greenback sebelumnya turun ke level terendah sejak Februari terhadap yen Jepang setelah meningkatnya ekspektasi pengetatan Bank of Japan. Dolar yang lebih lemah secara umum membuat emas lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga membantu membatasi tekanan jual pada bullion.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz juga tetap menjaga permintaan safe haven. Konflik tersebut telah mendorong harga minyak ke level tertinggi enam pekan, dengan Brent ditutup di US$97,31 per barel dan sempat menyentuh US$98,06. Kenaikan energi sekaligus meningkatkan risiko inflasi, sehingga dampaknya terhadap emas tetap dua arah: mendukung permintaan aset aman tetapi juga memperbesar peluang kebijakan moneter lebih ketat.
Secara lebih luas, emas masih bergerak dalam rentang yang relatif sempit sejak rebound dari area US$4.000 pada Juli. Investor jangka panjang juga tetap mencermati pembelian bank sentral dan permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko pelemahan mata uang serta ketidakpastian makroekonomi.
Emas saat ini masih menunjukkan pola konsolidasi di sekitar US$4.400. Pelemahan dolar dan risiko geopolitik menjadi penahan penurunan, sementara peluang kenaikan bunga The Fed membatasi penguatan. CPI AS menjadi katalis utama berikutnya; inflasi yang lebih panas berpotensi kembali menekan emas, sementara data yang lebih lunak dapat membuka ruang rebound menuju area resistance yang lebih tinggi. Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
