Berita Emas 28 September 2026

PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo – Harga emas turun ke sekitar US$4.253 per troy ounce pada perdagangan Senin (28/09), mendekati level terendah dalam tujuh pekan. Tekanan terhadap logam mulia meningkat seiring kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang menjaga harga minyak tetap tinggi serta memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Perhatian pasar kembali tertuju pada Selat Hormuz setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait pembukaan kembali jalur perdagangan energi strategis tersebut. Trump mengatakan Iran telah mengambil posisi terlalu jauh, meski ia memperkirakan pembicaraan kedua negara dapat kembali berlanjut pekan ini.

Di sisi lain, Iran masih mempertahankan sejumlah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian tersebut membuat risiko gangguan pasokan energi tetap menjadi perhatian pasar, sehingga harga minyak bertahan tinggi. Kondisi ini berpotensi menjaga tekanan inflasi dan pada akhirnya mendorong ekspektasi kebijakan moneter AS tetap ketat.

Tekanan terhadap emas juga datang dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih dapat melakukan kenaikan suku bunga tambahan. Sejumlah pejabat The Fed menyoroti pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS yang masih cukup kuat, sementara inflasi yang persisten membuat kebijakan suku bunga tinggi masih menjadi opsi untuk mengendalikan tekanan harga.

Fokus investor pekan ini selanjutnya tertuju pada data inflasi pilihan The Fed serta laporan tenaga kerja AS. Data-data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Jika tekanan inflasi tetap tinggi dan pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi tetap kuat dan dapat mempertahankan tekanan terhadap harga emas.

Harga emas kembali mencatat pelemahan mingguan karena pasar masih menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat. Harga emas bergerak di sekitar US$4.290 per troy ounce, turun lebih dari 2% secara mingguan. Meski berada dalam tekanan, pergerakan emas dinilai masih cukup kuat karena mampu bertahan di tengah lonjakan yield Treasury 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam dua dekade.

Tekanan utama terhadap emas berasal dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih dapat menaikkan suku bunga lebih lanjut. Kenaikan suku bunga membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen berbasis bunga. Selain itu, kenaikan yield riil AS dan penguatan dolar menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek.

Namun, sejumlah analis menilai penurunan emas masih relatif terbatas karena didukung oleh faktor fundamental jangka panjang. Pembelian emas oleh bank sentral global, ketidakpastian geopolitik, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat menjadi penyangga bagi permintaan emas. Minat investor terhadap produk ETF emas juga masih bertahan meskipun tekanan dari pasar obligasi meningkat.

Dari sisi pasar keuangan, emas juga mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai di tengah kekhawatiran terhadap risiko pasar obligasi. Meskipun indeks saham AS masih berada dekat level tinggi, investor mulai memperhatikan risiko dari kenaikan yield yang dapat meningkatkan tekanan terhadap valuasi aset berisiko. Kondisi ini membuat sebagian investor tetap mempertahankan emas sebagai diversifikasi portofolio.

Fokus pasar pekan depan akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama inflasi PCE dan laporan tenaga kerja Nonfarm Payrolls. Data yang lebih lemah dari perkiraan dapat menekan yield dan dolar sehingga berpotensi memberikan dorongan bagi emas. Sebaliknya, data ekonomi yang kuat dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan kembali menekan logam mulia.

Analisis Newsmaker : Pergerakan emas saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara tekanan suku bunga tinggi dan dukungan faktor struktural. Dalam jangka pendek, arah emas masih sangat bergantung pada pergerakan yield Treasury serta komunikasi The Fed. Namun dalam jangka panjang, risiko fiskal AS, pembelian bank sentral, dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor yang menjaga daya tarik emas. PT Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.