
PT Rifan – Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Rabu (23/9), dengan emas berada di sekitar US$4.361 per troy ounce setelah investor mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat memengaruhi harga energi serta arah kebijakan moneter Federal Reserve. Pergerakan emas masih berada dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami volatilitas akibat perubahan sentimen terhadap inflasi dan prospek suku bunga global.
Sentimen pasar mendapat dorongan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan perwakilan Iran berlangsung “sangat baik” di New York. Pernyataan tersebut kembali membuka harapan terhadap kemungkinan jalur diplomasi, setelah sebelumnya Trump memberikan pernyataan keras terkait tekanan terhadap Iran.
Perkembangan geopolitik tersebut turut memengaruhi pasar energi. Harga minyak kembali melemah setelah Trump menyampaikan optimisme terhadap hubungan AS-Iran, ditambah laporan bahwa Arab Saudi berencana memulihkan ekspor minyak melalui pipa East-West dalam beberapa hari ke depan. Jalur tersebut memungkinkan Saudi mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman energi.
Pergerakan emas masih sangat berkaitan dengan harga minyak karena investor menilai apakah tekanan energi dapat menjaga inflasi tetap tinggi dan mendorong The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneternya. Kenaikan suku bunga biasanya menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Selain faktor geopolitik, pasar juga memperhatikan komentar pejabat The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya. Presiden The Fed Richmond Tom Barkin memperingatkan bahwa tekanan inflasi akibat berbagai gangguan pasokan dapat membutuhkan waktu untuk mereda. Ia menilai terdapat risiko inflasi yang tinggi dapat bertahan lebih lama, meskipun belum memberikan sinyal jelas terkait kebutuhan kenaikan suku bunga tambahan.
Di sisi lain, permintaan emas fisik dari China terus menjadi faktor pendukung harga logam mulia. Data bea cukai menunjukkan impor emas China hingga Agustus telah melampaui 1.000 ton, lebih tinggi dibandingkan total pembelian sepanjang tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan permintaan dari konsumen terbesar dunia masih kuat di tengah dinamika kebijakan moneter global. (asd)
Harga emas bergerak menguat terbatas pada perdagangan Selasa (22/9), setelah tekanan dari penguatan dolar AS dan imbal hasil Treasury membatasi kenaikan logam mulia. Harga emas spot (XAU/USD) berada di sekitar US$4.356,80 per troy ounce, naik 0,32%, sementara perak mencatat penguatan lebih besar dengan harga spot silver berada di sekitar US$66,97 per ounce, naik 1,63%.
Pergerakan emas masih dipengaruhi oleh spekulasi pasar mengenai arah kebijakan Federal Reserve setelah kenaikan suku bunga September. Investor kini mempertanyakan apakah kenaikan suku bunga The Fed tersebut hanya penyesuaian sementara atau menjadi awal dari fase pengetatan baru. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tambahan 25 basis poin pada pertemuan Oktober berada di sekitar 53,1%.
Dari sisi pasar keuangan, dolar AS masih menjadi hambatan bagi emas. Indeks dolar AS (DXY) bergerak di sekitar level 100,48, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan dekat area 5%. Kondisi tersebut membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menghadapi tekanan karena biaya peluang kepemilikan emas meningkat ketika suku bunga tetap tinggi.
Perhatian investor juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk data awal PMI manufaktur dan jasa September, klaim pengangguran mingguan, pesanan barang tahan lama, serta indeks sentimen konsumen. Data ekonomi yang lebih kuat, terutama komponen harga, berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan bagi emas.
Sementara itu, meredanya kekhawatiran pasokan energi dari kawasan Timur Tengah turut mengurangi permintaan aset safe haven. Risiko terkait Selat Hormuz mulai sedikit berkurang setelah Iran memberikan sinyal kemungkinan membuka kembali jalur pelayaran jika tekanan AS dikurangi, sementara Arab Saudi mulai memulihkan ekspor melalui jalur East-West Pipeline dan pelabuhan Yanbu.
Harga minyak Brent sempat turun di bawah US$98 per barel sebelum stabil di sekitar US$99,25 per barel. Penurunan harga energi membantu meredakan kekhawatiran inflasi jangka pendek, tetapi pasar tetap melihat bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang karena The Fed masih mempertahankan fokus terhadap target inflasi 2%.
Analisis Newsmaker : Emas saat ini berada dalam tarik-menarik antara dua faktor utama: dukungan dari risiko geopolitik dan pelemahan tekanan energi, melawan tekanan dari dolar kuat serta ekspektasi The Fed yang masih hawkish. Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan apakah pasar kembali meningkatkan peluang kenaikan suku bunga tambahan. (arl) PT Rifan.
Sumber : NewsMaker
