
Rifan Financindo – Harga emas kembali menguat pada awal perdagangan sesi Asia Rabu (7/10), setelah tekanan dari yield Treasury AS mulai mereda. Emas bergerak mendekati US$4.165 per troy ounce, memanfaatkan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya tekanan dari harga minyak. Investor kini mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, tetapi masih menunggu FOMC Minutes untuk mendapatkan petunjuk kebijakan berikutnya.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,29% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2002. Yield tenor 30 tahun juga ikut terkoreksi setelah sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Penurunan yield menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi opportunity cost memegang aset yang tidak memberikan bunga.
Dari sisi inflasi, turunnya harga minyak juga memberikan sedikit ruang bagi emas. Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi sehingga risiko The Fed mempertahankan kebijakan ketat menjadi lebih kecil. Ditambah dengan data tenaga kerja AS yang sebelumnya menunjukkan perlambatan, pasar kini memperkirakan sekitar 79,5% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Namun, penguatan emas masih menghadapi sejumlah hambatan. Dolar AS masih berada di level tinggi dan yield Treasury tetap jauh di atas level normal dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober menurun, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa The Fed akan segera beralih ke kebijakan yang lebih longgar.
Karena itu, FOMC Minutes yang dirilis malam ini menjadi katalis penting bagi pergerakan emas selanjutnya. Jika risalah menunjukkan para pejabat The Fed mulai lebih khawatir terhadap pelemahan pasar tenaga kerja, yield dan dolar berpotensi kembali turun sehingga membuka ruang kenaikan emas. Sebaliknya, jika minutes menunjukkan inflasi masih menjadi perhatian utama, tekanan dari yield dapat kembali muncul dan membatasi rebound Gold.
Harga emas kembali menguat pada awal perdagangan Rabu (7/10), bergerak mendekati US$4.165 per troy ounce. Penguatan terjadi setelah yield Treasury AS tenor panjang mulai turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Di saat yang sama, harga minyak yang melemah ikut mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, sehingga memberikan ruang bagi emas untuk melakukan rebound.
Yield Treasury 10 tahun turun ke sekitar 5,29% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2002. Yield 30 tahun juga mulai terkoreksi setelah sempat mencapai level yang belum terlihat sejak 2002. Penurunan yield menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi opportunity cost memegang aset yang tidak memberikan bunga. Harga minyak yang lebih rendah juga membantu meredakan kekhawatiran bahwa inflasi energi akan kembali mendorong The Fed mempertahankan kebijakan ketat.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga saat ini berada di sekitar 79,5%. Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah data tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan yang cukup tajam, dengan NFP September hanya bertambah 29.000 pekerjaan dan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%.
Kini perhatian investor beralih sepenuhnya kepada FOMC Minutes yang akan dirilis pada Rabu. Risalah rapat September akan memberikan gambaran mengenai perdebatan para pejabat The Fed ketika menaikkan suku bunga sebelumnya, sekaligus menunjukkan seberapa besar kekhawatiran mereka terhadap inflasi dan pelemahan pasar tenaga kerja. Jika nada minutes cenderung dovish, yield dan dolar berpotensi kembali tertekan sehingga menjadi katalis positif bagi emas.
Analisa Newsmaker :
Rebound Gold saat ini mulai mendapatkan dukungan fundamental, tetapi arah berikutnya sangat bergantung pada FOMC Minutes. Jika The Fed menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar terhadap pasar tenaga kerja dan membuka ruang untuk menahan kenaikan suku bunga, emas berpeluang melanjutkan pemulihan. Namun, jika minutes justru menegaskan bahwa inflasi masih menjadi prioritas utama, yield dapat kembali naik dan membatasi penguatan emas. Rifan Financindo.
Sumber : Newsmaker
