
Rifan Financindo – Emas Turun Tipis, Sinyal Awal Koreksi?
Harga emas melemah tipis di awal perdagangan sesi Asia. Emas spot turun sekitar 0,2% ke kisaran $4.223,40 per troy ounce. Pergerakan ini terjadi setelah reli sebelumnya, dan pasar kini lebih berhati-hati sambil menunggu sinyal arah kebijakan suku bunga dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Dalam catatannya, Sucden Financial menilai pergerakan emas dan perak masih akan sangat sensitif terhadap indikasi apakah The Fed akan memangkas suku bunga. Jika pemangkasan suku bunga benar-benar berlanjut, hal itu biasanya menjadi faktor pendukung bagi logam mulia karena imbal hasil aset berbunga cenderung turun, sehingga emas dan perak relatif tampak lebih menarik sebagai aset lindung nilai.
Untuk jangka pendek, sentimen terhadap emas masih akan banyak dipengaruhi dua faktor utama: pergerakan nilai dolar AS dan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis dalam waktu dekat. Jika dolar AS terus melemah dan data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, pasar bisa kembali meningkatkan minat terhadap emas. Sebaliknya, jika dolar menguat atau data ekonomi AS masih terlalu kuat, tekanan jual pada logam mulia berpotensi berlanjut. (az)
Sumber: Newsmaker.id
Euforia Cut Rate! Emas Tembus Puncak 5 Pekan
Emas (XAU/USD) melanjutkan penguatan beruntun untuk sesi perdagangan kedua pada hari Senin (1/12), naik lebih dari 0,40% seiring pasar uang memperkirakan (pricing in) kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Sementara itu, pelemahan dolar AS membuat logam mulia ini bertahan kokoh di sekitar $4.240 saat tulisan ini dibuat, setelah menyentuh level tertinggi lima minggu di $4.264.
Emas Tetap Kuat Meski Ada Risiko Pengetatan BOJ dan Melemahnya Permintaan Fisik dari Tiongkok
Arah pergerakan emas masih cenderung naik, namun pengetatan kebijakan bank sentral—khususnya dari Bank of Japan (BoJ) menyusul komentar Gubernur Kazuo Ueda—serta perpecahan pandangan di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menjadi risiko utama bagi kelanjutan reli emas. Meski begitu, pekan lalu emas sudah menguat lebih dari 3,75% dan tampak bersiap menguji level $4.300 menjelang akhir tahun.
Dari sisi data, Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa aktivitas manufaktur pada November kembali mengalami kontraksi untuk bulan kesembilan berturut-turut. Data ISM juga menunjukkan bahwa harga input meningkat dan pasar tenaga kerja berada dalam kondisi “low-firing, low-hiring” (PHK rendah, perekrutan juga rendah).
Sementara itu, permintaan fisik emas di Tiongkok melemah karena harga yang tinggi, yang menurut laporan Financial Times telah menyebabkan ratusan toko emas tutup.
Menjelang pekan ini, kalender ekonomi AS akan diisi dengan rilis data ADP Employment Change, ISM Services PMI, klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims), serta rilis indikator inflasi favorit The Fed, yaitu Core PCE.(yds) Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
