
PT Rifan Financindo – Emas Tembus $5.500, Pasar “Kabur” dari Dolar & Obligasi
Harga emas kembali bikin heboh setelah melonjak ke rekor baru di atas $5.500 per ons, memperpanjang reli yang sudah super kencang sepanjang awal tahun. Di sesi Asia, emas sempat mencetak puncak baru sebelum bergerak lebih rendah; pukul 08.02 di Singapura, emas disebut berada di sekitar $5.461,98/ons setelah sebelumnya menyentuh rekor intraday. Lonjakan ini terjadi saat dolar AS melemah dan investor makin agresif mencari “aset penyimpan nilai” alternatif.
Dorongan terbesarnya bukan cuma soal inflasi—tapi soal kepercayaan. Banyak investor mulai ragu mengandalkan obligasi pemerintah dan mata uang sebagai “safe haven” utama, sehingga arus dana bergeser ke emas. Reuters juga mencatat reli emas ditopang permintaan safe-haven, ketidakpastian ekonomi-geopolitik, dan momentum pembelian yang terus menguat.
Pasar juga sedang “melihat jauh ke depan” dari keputusan The Fed yang baru saja menahan suku bunga. Fokusnya sekarang bergeser ke arah kebijakan berikutnya—terutama karena isu ketua The Fed berikutnya ikut memanaskan spekulasi: jika kepemimpinan baru lebih dovish, peluang suku bunga turun akan makin terbuka, dan itu biasanya jadi bensin tambahan buat emas (karena emas tidak memberi imbal hasil).
Dari sisi global, tekanan juga datang dari luar AS: gejolak di pasar obligasi (termasuk kekhawatiran fiskal) dan dinamika yen–dolar ikut menambah cerita “lari dari mata uang”. Di saat yang sama, komentar Trump soal dolar serta berbagai risiko geopolitik membuat pasar semakin defensif—dan emas jadi tujuan paling mudah saat volatilitas naik.
Efeknya merembet ke logam mulia lain. Reuters melaporkan perak juga berada dekat rekor/menyentuh rekor di rangkaian reli ini, sementara platinum dan palladium ikut bergerak mengikuti sentimen safe-haven dan pelemahan dolar. Dengan reli yang sudah “parabolik”, pasar biasanya tetap mewaspadai koreksi jangka pendek—tapi selama dolar lemah dan risiko global tinggi, biasnya masih condong ke atas.
5 Poin Kesimpulan
Emas melejit karena kombinasi dolar melemah + investor mengurangi posisi di obligasi/mata uang.
Pasar tidak berhenti di keputusan The Fed, tapi menatap arah kebijakan berikutnya.
Spekulasi ketua The Fed baru yang lebih dovish memperkuat taruhan suku bunga turun—positif untuk emas.
Risiko geopolitik dan “krisis kepercayaan” ke aset AS bikin emas makin dilirik.
Perak ikut terangkat dalam reli logam mulia, menandakan demand safe-haven menyebar. (az)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Tembus $5.500, Investor Memantau Pergeseran Kebijakan Fed
Harga emas melonjak menembus rekor baru di atas $5.500 per ons, memperpanjang reli super cepat yang didorong kombinasi ekspektasi pelonggaran moneter dan perpindahan dana dari obligasi pemerintah serta mata uang. Emas batangan sempat melonjak hingga 4,6%, ketika pasar mulai “membaca” bahwa pimpinan moneter baru di Federal Reserve pada akhir tahun bisa membawa arah kebijakan yang lebih lunak.
Lonjakan ini terjadi meskipun The Fed pada Rabu menahan suku bunga dan memberi sinyal pendekatan yang lebih hati-hati untuk penyesuaian kebijakan ke depan. Namun pelaku pasar tampaknya sudah melihat melewati pertemuan kali ini—fokusnya bukan lagi sekadar keputusan sekarang, melainkan siapa yang memimpin The Fed berikutnya dan bagaimana gaya kebijakannya.
“Pasar melihat melampaui Powell. Ketua berikutnya bisa saja jauh lebih dovish,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities. Menurutnya, pilihan ketua The Fed akan jadi faktor kunci yang menentukan performa emas sepanjang tahun ini, karena logam mulia biasanya paling diuntungkan saat arah suku bunga condong turun.
Salah satu nama yang makin sering disebut adalah Rick Rieder dari BlackRock. Sosok veteran Wall Street ini dipandang membawa pendekatan yang lebih “market-driven”. Ia pernah mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif dan mengkritisi komunikasi kebijakan The Fed yang terlalu mengunci ekspektasi—hal-hal yang, jika tercermin dalam kebijakan, bisa menjadi “bensin” untuk emas karena lingkungan suku bunga rendah menguntungkan aset yang tidak memberikan bunga.
Di luar cerita The Fed, permintaan emas juga disulut oleh meningkatnya risiko geopolitik, pelemahan dolar, serta kecenderungan investor mengurangi eksposur ke mata uang dan obligasi pemerintah. Emas telah naik sekitar 25% sepanjang tahun ini dan baru saja menembus $5.000 minggu ini. Pada periode yang sama, perak sudah melesat sekitar 63%. Aksi jual besar di pasar obligasi Jepang ikut menambah keresahan soal belanja fiskal, sementara spekulasi intervensi untuk menahan yen turut memberi tekanan pada dolar—membuat emas relatif lebih murah bagi pembeli global.
Standard Chartered menilai kombinasi ekspektasi The Fed yang lebih lunak—bahkan dianggap kurang independen—dan risiko geopolitik dapat mempercepat alokasi ke emas, terutama dari investor ritel. “Kecuali koreksi jangka pendek, kami masih melihat risiko kenaikan lanjutan,” tulis Suki Cooper, kepala riset komoditas global bank tersebut.(alg) PT Rifan Financindo.
Sumber: NewsMaker
