Berita Emas 2 Februari 2026

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Warsh Effect dan Unwind: Logam Mulia Babak Belur di Asia
Emas kembali jatuh dan memperdalam penurunan terbesar dalam lebih dari satu dekade, sementara perak melanjutkan pembalikan tajam setelah reli “keburu panas”. Di sesi Asia Senin, emas spot sempat merosot hingga 6,3%, sedangkan perak anjlok sampai 11,9%—bahkan sempat berayun naik lebih dari 3% sebelum kembali dihantam jualan besar.

Menurut Robert Gottlieb, pasar belum tentu selesai “beres-beres”. Ia menilai likuiditas bisa menipis karena trader enggan menambah risiko, dan kuncinya sekarang adalah apakah harga bisa menemukan support. Intinya: posisi beli sebelumnya terlalu padat—begitu arah berbalik, efek domino jadi sulit dibendung.

Sebelum ambruk, logam mulia sempat terbang ke rekor tertinggi dan membuat banyak pelaku pasar kaget. Reli makin kencang pada Januari, didorong kekhawatiran geopolitik, isu “debasement” mata uang, serta sorotan pada independensi Federal Reserve. Tambahan “busa” juga datang dari spekulasi investor China yang ikut mengejar tren naik.

Arah berikutnya banyak dipengaruhi perilaku pembeli China: seberapa agresif mereka “buy the dip”. Harga acuan di Shanghai masih diperdagangkan premium dibanding harga internasional, dan di akhir pekan pembeli disebut ramai di pasar bullion terbesar di Shenzhen menjelang Lunar New Year untuk membeli perhiasan dan emas batangan. Zijie Wu dari Jinrui Futures Co. menilai volatilitas tinggi dan kedekatan libur Lunar New Year akan mendorong trader mengurangi posisi, namun penurunan harga bisa justru menopang permintaan ritel di musim puncak belanja.

Pemicu utama kejatuhan tajam Jumat adalah kabar Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh memimpin The Fed—mendorong dolar menguat dan memukul sentimen yang sebelumnya bertaruh Trump akan “membiarkan” dolar melemah. Warsh dipandang sebagai salah satu kandidat paling keras soal inflasi, sehingga ekspektasi kebijakan lebih ketat ikut naik—dan itu biasanya jadi kombinasi buruk untuk emas yang dihargai dalam dolar.

Namun pasar sebenarnya sudah rawan bergerak ekstrem: harga yang melonjak dan volatilitas tinggi menekan model risiko dan neraca trader. Goldman Sachs Group Inc. menyorot gelombang pembelian call options yang ikut “mengunci” momentum naik secara mekanis lewat aktivitas hedging—yang saat berbalik arah bisa mempercepat tekanan jual. Per Senin siang waktu Singapura, emas turun 4,6% ke $4.671,53/ons dan perak melemah 7,4% ke $78,86, sementara Bloomberg Dollar Spot Index naik tipis 0,1% setelah melonjak 0,9% pada sesi sebelumnya.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

Rally Emas Patah: Sell-Off Belum Selesai?
Harga emas kembali melemah pada awal pekan, memperpanjang penurunan paling tajam dalam lebih dari satu dekade. Setelah reli panjang hingga cetak rekor, pasar seperti “ketabrak rem mendadak”—karena kenaikan sebelumnya dinilai terlalu cepat dan posisi terlalu padat.

Pada perdagangan awal Senin, emas spot sempat turun hingga 4%. Perak juga tergelincir sekitar 4%, meski masih bertahan di atas $80/ons. Sebelumnya, perak bahkan sempat jatuh sedalam 12% dalam satu sesi—dan mencatat penurunan intraday terbesar yang pernah terjadi.

Mantan pedagang logam mulia Robert Gottlieb menilai tekanan belum tentu selesai. Intinya: pasar masih harus membuktikan apakah emas-perak bisa menemukan area support yang kuat. “Trade-nya terlalu ramai,” kira-kira begitu pesannya—dan ketika posisi terlalu penuh, sedikit pemicu bisa bikin kejatuhan jadi brutal.

Selama setahun terakhir, emas dan perak terbang ke level tertinggi sepanjang masa. Akselerasi paling kencang terjadi pada bulan Januari, saat investor memburu safe haven karena kekhawatiran soal geopolitik, “pelemahan nilai uang”, dan isu independensi Federal Reserve.

Pemantik utama selloff Jumat datang dari kabar bahwa Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh sebagai pimpinan The Fed. Pasar menilai Warsh sebagai sosok yang paling keras melawan inflasi di antara kandidat, sehingga ekspektasi kebijakan moneter menjadi lebih “ketat”—dan biasanya memperkuat dolar, sekaligus menekan emas yang dihargai dalam dolar.

Tapi sebenarnya, pasar sudah “siap meledak” bahkan sebelum pemicu itu muncul. Volatilitas yang tinggi dan harga yang naik membuat banyak model risiko dan neraca pelaku pasar tertekan. Goldman Sachs Group Inc. menyorot gelombang besar pembelian call options yang ikut mendorong harga naik secara mekanis—karena pihak penjual opsi harus melakukan hedging dengan membeli aset saat harga naik. Masalahnya: saat arah berbalik, efeknya bisa jadi kebalikannya—turun cepat.

Pada pukul 08.05 waktu Singapura, emas turun sekitar 2,2% ke $4.784,54/ons, sementara perak turun 2,1% ke $83,30. Logam lain seperti platinum dan paladium ikut melemah. Sementara Bloomberg Dollar Spot Index cenderung datar setelah sempat naik 0,9% pada sesi sebelumnya—menguatnya dolar jadi salah satu angin kencang yang bikin emas makin susah bangkit dengan cepat. PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.