
PT Rifan Financindo – Emas Turun Harapan Pemangkasan Suku Bunga Fed Memudar
Harga emas melemah tipis pada perdagangan awal Rabu(25/2), memperpanjang penurunan dari sesi sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh menurunnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga, sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding.
Emas batangan menawarkan sekitar US$5.130 per ons, setelah turun 1,6% pada hari Selasa yang sekaligus mengakhiri reli empat hari. Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins menyatakan suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah “untuk beberapa waktu”, seiring data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS kembali menguat.
Tekanan juga datang dari sinyal kebijakan The Fed yang masih berhati-hati. Risalah rapat kebijakan Fed Januari yang dirilis awal bulan ini menampilkan para pejabat bank sentral masih berhati-hati untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut. Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas umumnya menghadapi hambatan karena tidak memberikan ketidakseimbangan hasil bunga, sehingga menjadi kurang kompetitif dibandingkan instrumen berbunga.
Pada pukul 07.27 waktu Singapura, harga emas tercatat turun 0,3% menjadi US$5.131,00 per ons. Perak melemah 0,4% ke US$86,80, sementara platinum dan paladium juga bergerak turun. Di sisi mata uang, indeks dolar spot Bloomberg mengakhiri sesi sebelumnya dengan kenaikan tipis, yang juga menambah tekanan bagi logam mulia.(alg)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Terkoreksi Usai Reli 4 Hari, Ketidakpastian Tarif dan Iran Masih Menopang
Harga emas melemah setelah mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut, reli yang sebelumnya ditopang oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan meningkatnya tensi di Timur Tengah. Meski sempat turun tajam intraday, penurunan emas kemudian berkurang seiring dolar AS melemah tipis, sehingga tekanan terhadap logam mulia tidak berkembang menjadi aksi jual berkelanjutan.
Pada sesi terbaru, emas sempat terkoreksi hingga sekitar 2,5% sebelum memangkas pelemahan. Dalam empat sesi sebelumnya, emas telah naik lebih dari 7% karena investor kembali memburu aset aman, terutama setelah putusan Mahkamah Agung AS mengguncang rezim tarif Presiden Donald Trump dan pasar memantau perkembangan konfrontasi AS–Iran.
Sejumlah pelaku pasar menilai fluktuasi harga yang cukup besar masih tergolong “normal” dalam konteks volatilitas saat ini. Namun, sentimen jangka menengah dinilai tetap positif karena ketidakpastian terkait Iran belum mereda dan kebijakan tarif AS berpotensi memperlebar friksi perdagangan—dua faktor yang biasanya menjaga permintaan defensif tetap hidup.
Kebingungan pasar terutama berpusat pada arah tarif AS. Setelah putusan pengadilan, Trump menyatakan akan menaikkan bea impor global menjadi 15%. Di saat yang sama, kebijakan tarif impor 10% yang lebih dulu diumumkan telah mulai berlaku pada Selasa, sementara jadwal penerapan tarif yang lebih tinggi belum memiliki kepastian. Kondisi ini membuat pelaku usaha dan negara mitra dagang menghitung ulang dampak kebijakan, termasuk kemungkinan benturan dengan perjanjian yang sudah ada.
Di sisi lain, beberapa analis menilai headline tarif memang menjaga ketidakpastian tetap tinggi dan cenderung mendukung emas “di margin”, namun belum cukup untuk memicu penembusan yang tegas. Dengan real yield yang relatif masih kokoh dan dolar yang belum benar-benar melemah signifikan, emas lebih berpeluang bergerak konsolidatif dalam jangka pendek ketimbang membentuk tren agresif tanpa katalis baru.
Emas juga dinilai mulai menemukan pijakan kembali di atas $5.000 per ons setelah pergerakan yang sangat ekstrem sebelumnya. Pada pergantian bulan, lonjakan spekulatif sempat mendorong reli multi-tahun ke titik rapuh, lalu harga berbalik tajam dari rekor di atas $5.595 pada akhir Januari. Sejak itu, emas telah memulihkan lebih dari separuh koreksi, meski volatilitas masih tinggi dan pergerakan harian cenderung “choppy”.
Sejumlah bank besar mempertahankan pandangan bahwa harga emas masih berpotensi pulih karena pilar fundamental reli dinilai belum berubah: risiko geopolitik—khususnya Timur Tengah—kekhawatiran terhadap independensi The Fed, serta kecenderungan sebagian investor mengalihkan porsi portofolio dari obligasi pemerintah dan mata uang utama menuju aset lindung nilai. UBS, misalnya, menilai peristiwa geopolitik dapat memicu lonjakan volatilitas yang biasanya meningkatkan permintaan hedging, dan memproyeksikan emas berpotensi menuju $6.200 per ons dalam beberapa bulan ke depan.
Secara geopolitik, pasar menunggu kelanjutan pembicaraan nuklir AS–Iran pekan ini, di tengah akumulasi kekuatan militer AS di kawasan. Trump menegaskan preferensi pada solusi diplomatik, namun tetap memperingatkan konsekuensi serius bila kesepakatan tidak tercapai—kombinasi yang membuat permintaan safe haven tetap relevan meski emas sedang terkoreksi. Pada penutupan sesi New York, emas tercatat turun sekitar 1,2% ke $5.164,61 per ons, sementara perak turun 1,0% ke $87,30 dan dolar AS bergerak naik tipis.(mrv) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
