
PT Rifan Financindo – Emas Menanti Arah Baru
Harga emas bergerak stabil setelah mencatat penurunan mingguan kedua, di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran serta rencana Presiden Donald Trump untuk mulai memandu sejumlah kapal melewati Selat Hormuz.
Emas batangan bergerak di sekitar US$4.620 per ons. Trump mengatakan bahwa AS akan mulai membantu beberapa kapal yang tidak terlibat dalam konflik Iran untuk keluar melalui Selat Hormuz mulai Senin. Ia juga menyebut adanya diskusi positif dengan Teheran.
Namun, sentimen pasar masih belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Trump memberi sinyal bahwa proposal perdamaian terbaru Iran mungkin belum cukup untuk memenuhi tuntutan Washington. Konflik ini masih membuat harga energi tetap tinggi dan menekan harapan penurunan suku bunga bank sentral.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas, karena emas tidak memberikan imbal hasil. Sejak perang dimulai pada akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 12%. Meski begitu, pelemahan dolar AS masih memberi sedikit ruang bagi emas untuk bertahan.
Ke depan, trader akan mencermati rencana pinjaman Departemen Keuangan AS, pidato sejumlah pejabat The Fed, serta data tenaga kerja bulanan AS. Data-data ini dapat memberi petunjuk baru soal arah suku bunga, defisit fiskal AS, dan prospek pergerakan emas berikutnya.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Turun Tipis di Sesi Berombak, Masih Dekat Level Terendah Sebulan
Harga emas bergerak volatil namun berakhir sedikit di bawah level datar pada Jumat (1/4), setelah mencatat penurunan tipis sepanjang April dan bertahan dekat posisi terendah satu bulan. Aktivitas perdagangan cenderung sepi seiring libur pasar di sebagian besar Eropa dan Asia.
Pada 16:57 ET (20:57 GMT), spot gold turun 0,2% ke US$4.613,77/oz, sementara gold futures melemah 0,1% ke US$4.626,75/oz. Pergerakan dua arah dalam sesi mencerminkan tarik-menarik antara faktor teknikal jangka pendek dan tema makro yang masih dominan.
Secara bulanan, spot gold turun sekitar 1% pada April, memperpanjang pelemahan setelah penurunan hampir 12% pada Maret. Kekhawatiran inflasi yang meningkat terkait perang Iran mendorong arus ke dolar, menambah tekanan pada emas.
Lonjakan harga minyak juga membayangi emas karena konflik Iran disebut memicu gangguan luas pada pasokan crude global. Kenaikan energi memperkuat kanal inflasi, yang pada gilirannya mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan arah imbal hasil.
Tekanan pada logam mulia juga datang dari sinyal hawkish bank sentral utama pekan ini. Sejumlah pembuat kebijakan The Fed menyoroti risiko inflasi berbasis energi, sementara ECB, BoE, dan BoJ mengisyaratkan ruang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat di tengah kenaikan harga minyak. Dalam kerangka transmisi pasar, prospek suku bunga lebih tinggi meningkatkan opportunity cost aset non-yielding seperti emas, sehingga membatasi ruang pemulihan harga.(mrv)* PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
