
PT Rifan Financindo Berjangka – Emas Bertahan, Minyak Jadi Penentu!
Harga emas bergerak stabil menguat pada perdagangan Rabu (22/07), saat pelaku pasar menimbang dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan arah suku bunga The Fed. Spot gold berada di sekitar US$4.080,79 per troy ounce, sementara dolar AS relatif stabil setelah menguat pada sesi sebelumnya.
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian utama setelah kedua negara kembali saling menyerang untuk hari kesepuluh. Meski mediator terus berupaya membuka kembali jalur negosiasi, harga minyak kembali naik karena risiko pasokan di Timur Tengah belum mereda.
Tekanan tambahan juga datang dari serangan di pesisir Laut Hitam Rusia, wilayah penting untuk pengiriman sebagian besar minyak Kazakhstan. Kondisi ini membuat pasar energi semakin sensitif terhadap gangguan pasokan global.
Emas saat ini menunjukkan tanda-tanda mendapat dukungan di sekitar level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah melemah selama dua pekan. Aksi beli saat harga turun mulai terlihat, sementara perak juga ikut menguat tajam dengan kenaikan lebih dari 4% pada Selasa.
Dampaknya ke market, emas masih berada dalam fase mencari arah. Pembelian bank sentral dapat menjadi penopang, tetapi kekhawatiran kenaikan suku bunga masih membatasi penguatan. Morgan Stanley memperkirakan emas bisa mencapai US$4.450 dan perak US$65,40 per troy ounce pada kuartal IV jika The Fed akhirnya menahan suku bunga tahun ini dan kembali memangkasnya tahun depan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id
Emas Menguat, Harapan Damai, Aksi Beli Jadi Penopang
Harga emas naik lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (21/7), didukung harapan adanya terobosan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Jika konflik mereda, tekanan harga energi berpotensi ikut turun dan dapat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap sikap hawkish The Fed.
Spot gold naik 1,7% ke level US$4.071,32 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,5% dan menetap di US$4.076,40 per troy ounce.
Sentimen positif muncul setelah seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran telah menerima proposal dari mediator terkait gencatan senjata selama 10 hari. Proposal tersebut bertujuan menyelamatkan kembali kesepakatan sementara antara AS dan Iran.
Emas juga mendapat dukungan dari sisi teknikal setelah berhasil menembus tren turun jangka pendek yang terbentuk sejak 6 Juli. Namun, analis menilai pergerakan emas masih berpotensi berada dalam rentang terbatas dalam waktu dekat.
Sebelumnya, kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk sempat membebani emas. Harga energi yang tinggi dapat memicu inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, yang biasanya menjadi tekanan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Analis menilai kenaikan kali ini lebih banyak dipicu oleh aksi beli setelah penurunan, bukan sepenuhnya karena kabar baru dari geopolitik. Perak bahkan tampil lebih kuat karena mendapat dua dukungan sekaligus, yaitu permintaan safe haven dan sentimen positif dari logam industri seperti tembaga.
Dampaknya ke market, area US$4.000 masih menjadi level psikologis penting bagi emas. Selama bertahan di atas area tersebut, peluang rebound tetap terbuka. Namun, penguatan lebih jauh bisa tertahan jika pasar kembali memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed, dengan peluang hike September kini berada di sekitar 64%.(yds) PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber: NewsMaker
