
PT Rifan Financindo Berjangka – Emas Jatuh di Bawah US$5.000 Ini Penjelasannya!
Harga emas turun ke bawah level psikologis US$5.000 per ons pada awal perdagangan Asia, seiring konflik di Timur Tengah yang telah memasuki pekan ketiga terus mendorong pemutaran harga minyak dunia. Tekanan terhadap logam mulia muncul setelah serangan terhadap infrastruktur energi penting selama akhir pekan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Emas spot sempat melemah sekitar 1% dan berdering di kisaran US$4.986,34 per ons di Singapura. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan emas setelah mencatat penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Pada saat yang sama, harga minyak melonjak tajam setelah serangan Amerika Serikat ke pusat ekspor minyak utama Iran dibalas dengan serangan Teheran terhadap fasilitas energi di sejumlah negara Arab.
Kenaikan harga energi membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas, karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan aset non-yielding seperti logam mulia. Pelaku pasar kini hampir tidak melihat peluang adanya pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan ini.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat terbaru menunjukkan belanja konsumen hanya naik tipis pada bulan Januari, sementara sentimen konsumen turun ke level terendah dalam tiga bulan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi sudah mulai terasa bahkan sebelum konflik berkembang lebih jauh. Pasar pun mulai mewaspadai risiko perlambatan pertumbuhan di tengah inflasi yang masih tinggi akibat penambahan harga energi.
Meski dalam jangka pendek emas ditekankan oleh naiknya imbal hasil dan berkurangnya harapan pemangkasan suku bunga, prospek jangka menengah untuk logam mulia belum sepenuhnya suram. Jika konflik berkepanjangan yang memicu stagflasi, yakni kombinasi pertumbuhan yang melambat dan inflasi tinggi, emas tetap berpotensi kembali dilirik sebagai aset lindung nilai. Artinya, tekanan saat ini bisa saja hanya menjadi fase koreksi sebelum pasar kembali mencari perlindungan di aset safe haven.(asd)
Sumber: Newsmaker.id
Emas Tertekan Meski Geopolitik Memanas
Harga emas kembali melemah meski ketegangan geopolitik meningkat, karena reli minyak dan gas memperkuat kekhawatiran inflasi dan menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Analis Commerzbank Research Barbara Lambrecht menilai emas “gagal memetik manfaat” dari krisis geopolitik, karena kenaikan energi justru mendorong risiko inflasi yang bisa memaksa bank sentral mengambil langkah penahan.
Lonjakan harga energi mengubah cara pasar membaca emas. Jika inflasi kembali menguat, ruang pelonggaran kebijakan moneter menyempit, sehingga suku bunga riil dan imbal hasil berpotensi tetap tinggi lebih lama—kondisi yang biasanya tidak ramah bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di AS, tekanan itu datang bersamaan dengan data konsumsi terbaru yang menunjukkan belanja hanya naik tipis pada Januari di tengah pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan. Laporan tersebut menambah kekhawatiran bahwa tekanan harga sudah terbentuk bahkan sebelum serangan terhadap Iran, memperkuat narasi bahwa inflasi bisa lebih “lengket” saat energi kembali mahal.
Sentimen konsumen AS juga melemah. Indikator kepercayaan konsumen dilaporkan turun ke level terendah tiga bulan, seiring meningkatnya kekhawatiran dalam beberapa pekan terakhir terkait dampak kenaikan harga bensin akibat konflik.
Pasar suku bunga bergerak sejalan dengan tema tersebut. Pelaku pasar kini melihat nyaris tidak ada peluang pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed pekan depan, dan sekitar 80% peluang penurunan suku bunga pada tahun ini. Jika tekanan inflasi berlanjut, kembalinya siklus pemangkasan bisa tertunda, di saat Presiden Donald Trump terus mendorong penurunan suku bunga.
Meski tertekan, emas masih mencatat kenaikan sekitar 16% sepanjang tahun berjalan dan relatif bertahan di atas ambang US$5.000 per ons, menunjukkan dukungan struktural belum sepenuhnya hilang.
Pada pukul 16.04 di New York, spot gold turun 1,2% ke US$5.019,68 per ons dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 3%, yang berpotensi menjadi penurunan mingguan beruntun pertama sejak November.
Perak turun 4,2% ke US$80,29, sementara platinum dan palladium juga melemah. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,6% dan berada di jalur kenaikan mingguan.(yds) PT Rifan Financindo Berjangka. PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : Newsmaker
