Berita Emas 23 Juni 2026

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga Emas Stabil, Pasar Menanti Arah Damai AS-Iran dan Sinyal The Fed
Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Selasa (23/6/2026) sesi Asia, setelah sempat menguat hampir 1% pada sesi sebelumnya. Spot gold berada di sekitar US$4.190 per troy ounce, mencoba mempertahankan pemulihan setelah berhasil menghentikan pelemahan selama tiga hari beruntun. Pergerakan ini terjadi ketika pasar mencermati perkembangan awal pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya telah mengguncang pasar global dan mendorong kekhawatiran inflasi.

Sentimen positif muncul setelah kedua pihak memberi sinyal adanya kemajuan dalam negosiasi untuk mengakhiri konflik. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan dengan Iran pada akhir pekan berjalan sangat baik, sementara pejabat Iran juga mengakui adanya perkembangan dalam proses diplomasi. Salah satu poin penting dari pembicaraan tersebut adalah pembentukan jalur komunikasi antara Tehran dan Washington untuk membantu memastikan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia.

Selain itu, Amerika Serikat juga menerbitkan lisensi sementara selama 60 hari yang memungkinkan Iran menjual sebagian minyaknya ke pasar internasional. Kebijakan ini memperbesar harapan bahwa pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia dapat kembali pulih secara bertahap. Namun, dampaknya terhadap emas tidak sepenuhnya satu arah. Di satu sisi, turunnya risiko gangguan pasokan energi dapat meredakan inflasi. Di sisi lain, berkurangnya ketegangan geopolitik juga bisa menahan permintaan safe haven terhadap emas.

Analis menilai pasar emas dan perak saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama harga minyak, dolar AS, dan arah kebijakan bank sentral. Rhona O’Connell dari StoneX Group menilai emas dan perak masih ragu bergerak tegas karena kondisi teknikal keduanya belum sepenuhnya kuat, meskipun sebagian aliran dana mulai membaik. Artinya, pelaku pasar belum berani mengambil posisi besar sebelum ada kepastian lebih jelas mengenai kelanjutan damai AS-Iran dan arah suku bunga global.

Tekanan terbesar bagi emas masih datang dari sikap hawkish Federal Reserve. Ketua The Fed Kevin Warsh pekan lalu memberi sinyal bahwa bank sentral AS masih fokus mengendalikan inflasi, sehingga peluang suku bunga tetap tinggi atau bahkan naik kembali masih terbuka. Kondisi ini menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, dolar AS yang menguat lebih dari 1% sejak rapat The Fed terakhir juga menambah tekanan, mengingat emas diperdagangkan dalam mata uang dolar.

Ke depan, arah emas masih akan ditentukan oleh kombinasi tiga faktor utama: perkembangan negosiasi AS-Iran, pergerakan harga minyak, dan kekuatan dolar AS. Jika pembicaraan damai berlanjut dan harga minyak tetap terkendali, tekanan inflasi bisa mereda dan membantu emas bertahan. Namun, apabila dolar terus menguat dan pasar semakin yakin The Fed akan kembali menaikkan suku bunga, ruang kenaikan emas berpotensi tetap terbatas meskipun harga saat ini masih berada di level tinggi.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Emas Rebound, Pasar Cermati Damai AS-Iran dan Arah The Fed
Harga emas bergerak menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026), memulihkan sebagian tekanan setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari satu pekan. Spot emas naik ke kisaran $4.180 hingga $4.199 per troy ounce, didukung oleh turunnya harga minyak mentah setelah muncul kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Penguatan emas terjadi karena penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi berbasis energi. Pasar menilai kemajuan diplomasi AS-Iran dapat membuka peluang tambahan pasokan minyak mentah ke pasar global, terutama jika aliran energi dari kawasan Teluk Persia kembali pulih. Kondisi ini membuat tekanan terhadap harga minyak mereda dan memberi ruang bagi emas untuk bangkit dari tekanan tiga sesi sebelumnya.

Pembicaraan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran di Swiss disebut menghasilkan kemajuan yang menggembirakan, meskipun ketegangan di Lebanon dan Selat Hormuz masih menjadi risiko utama. Mediator Qatar dan Pakistan menyatakan kedua pihak menyepakati peta jalan menuju kesepakatan lebih luas dalam 60 hari ke depan. Pasar kini mencermati apakah proses teknis lanjutan dapat menghasilkan kepastian yang lebih kuat terhadap stabilitas kawasan.

Meski begitu, kenaikan emas masih tertahan oleh prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap hawkish. Setelah pertemuan Federal Reserve pekan lalu, pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada akhir tahun. Sembilan dari 19 pejabat The Fed juga disebut melihat perlunya kenaikan suku bunga tahun ini, sehingga sentimen tersebut membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Dari sisi pasar, kenaikan suku bunga biasanya menjadi tekanan bagi emas karena investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti obligasi. Bank of America juga menilai target harga emas di US$6.000 per troy ounce menjadi lebih sulit tercapai apabila pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga. Namun, bank tersebut tetap menilai faktor kebijakan makro Amerika Serikat yang tidak biasa masih menjadi dasar utama pandangan bullish jangka panjang terhadap emas.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan dapat memberi arah baru bagi ekspektasi suku bunga.

Jika inflasi mulai mereda, emas berpeluang mempertahankan rebound. Namun, apabila inflasi tetap kuat, tekanan dari dolar AS dan yield obligasi dapat kembali membatasi kenaikan harga emas.(yds) PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.