
PT Rifan Financindo – Diplomasi Iran Angkat Emas
Harga emas menguat pada perdagangan Senin (03/08) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perundingan baru dengan Iran akan dimulai. Harapan tercapainya kesepakatan dinilai dapat meredakan konflik sekaligus menurunkan tekanan inflasi dari harga energi.
Emas diperdagangkan di sekitar US$4.070 per troy ounce setelah mencatat kenaikan sekitar 1% sepanjang Juli. Kinerja tersebut menjadi kenaikan bulanan pertama sejak Februari, meski harga masih berada jauh di bawah level sebelum perang AS-Iran dimulai.
Sentimen membaik setelah Trump membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran. Keputusan itu diambil setelah sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, meminta Washington mengutamakan jalur diplomasi. Harga minyak Brent kemudian turun lebih dari 7%.
Penurunan minyak membantu meredakan kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali meningkat. Kondisi ini mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga secara agresif, sehingga emas kembali menarik karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Pasar juga mencermati arah kebijakan The Fed setelah Ketua Kevin Warsh dikabarkan mempertimbangkan pengurangan frekuensi rapat kebijakan. Langkah tersebut berpotensi mengurangi petunjuk bagi pasar, terutama setelah tiga pejabat The Fed sebelumnya mendukung kenaikan suku bunga.
Emas spot naik sekitar 0,6% ke US$4.070,21 per troy ounce, sementara dolar AS melemah. Selama perundingan AS-Iran menjaga harga minyak tetap rendah dan ekspektasi kenaikan bunga berkurang, emas masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. (asd)
Sumber : Newsmaker.id
Reli Yen Padam, Emas Ikut Tenggelam
Harga emas turun menuju US$4.050 per troy ounce pada perdagangan Jumat (31/7) setelah penguatan yen mulai kehilangan tenaga. Kondisi tersebut membantu dolar AS bangkit dan menghentikan pelemahan selama lima hari berturut-turut.
Emas spot melemah sekitar 1,3% ke level US$4.051,29 per troy ounce. Meski terkoreksi, logam mulia masih berada di jalur kenaikan tipis sepanjang Juli, yang akan menjadi kenaikan bulanan pertamanya sejak Februari.
Dolar kembali menguat setelah Bank of Japan mempertahankan suku bunga dan Gubernur Kazuo Ueda tidak memberikan dukungan baru bagi yen. Pemerintah Jepang juga belum mengonfirmasi dugaan intervensi yang sebelumnya membuat yen melonjak hingga 3,3% terhadap dolar.
Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Namun, aksi beli saat harga turun masih membantu emas bertahan di atas level psikologis US$4.000 dalam beberapa pekan terakhir.
Pasar kini mencari petunjuk mengenai langkah Federal Reserve berikutnya. Sejumlah pejabat The Fed menilai suku bunga mungkin perlu dinaikkan apabila inflasi tetap tinggi, terutama setelah lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran meningkatkan tekanan harga.
Analisis Newsmaker: Emas masih berisiko tertekan selama dolar dan imbal hasil obligasi AS menguat. Area US$4.000 menjadi penopang utama, sedangkan US$4.080–US$4.100 menjadi hambatan terdekat. Konflik Timur Tengah dapat menjaga permintaan aset aman, tetapi kenaikan minyak juga berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi. (arl) PT Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
