
PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas melemah setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya. XAU/USD pada perdagangan Kamis (29/10) berada di sekitar US$4.045 per troy ounce, sementara pasar masih mencermati peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Keputusan The Fed sebelumnya telah diperkirakan pasar. FOMC memilih mempertahankan suku bunga dengan suara 10-2, sementara Ketua Fed Kevin Warsh menyampaikan bahwa bank sentral akan mengurangi jumlah pertemuan yang menghasilkan keputusan suku bunga. Perubahan tersebut dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku pasar.
Bagi investor emas, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih menjadi perhatian utama. Harga energi yang tetap tinggi membuat upaya mengendalikan inflasi menjadi lebih sulit. Kebijakan moneter yang lebih ketat cenderung menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Pasar selanjutnya menunggu data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Data tersebut akan memberikan petunjuk tambahan mengenai kemungkinan arah kebijakan pada pertemuan Desember.
Selain faktor suku bunga, emas juga masih rentan terhadap aksi jual di pasar saham. Kekhawatiran mengenai besarnya investasi kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap arus kas perusahaan dapat memicu likuidasi aset, termasuk emas, ketika investor membutuhkan dana untuk menutup kerugian.
Emas telah mengalami tekanan sepanjang Oktober setelah sebelumnya mencapai level tinggi. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa momentum bullish logam mulia mulai menghadapi tantangan dari kombinasi kebijakan moneter ketat, dolar, dan volatilitas pasar saham.
Sementara itu, indeks dolar Bloomberg turun 0,1%, memberikan sedikit ruang bagi emas untuk menahan tekanan. Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan bagaimana pasar menerjemahkan sinyal The Fed mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. (srh)
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas menguat pada Rabu (28/10) setelah dolar AS melemah menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh bahwa kondisi keuangan AS menunjukkan pengetatan sejak keputusan suku bunga September. Harga emas spot naik 0,2%, sementara kontrak berjangka emas menguat 0,8%.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4% melalui keputusan 10-2. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, memilih kenaikan 25 basis poin. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar meskipun data inflasi AS terbaru masih menunjukkan tekanan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Dalam konferensi pers, Warsh mengatakan kondisi pasar tenaga kerja masih cukup positif, sehingga pembahasan FOMC lebih banyak berfokus pada persoalan inflasi. Ia juga menyebut adanya pengetatan kondisi keuangan dan perubahan perilaku pelaku pasar sejak pertemuan September.
Pernyataan tersebut memberikan sedikit ruang bagi emas untuk menguat karena pengetatan kondisi keuangan dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk segera memperketat kebijakan. Namun, Warsh belum memberikan kepastian mengenai arah suku bunga berikutnya dan menegaskan bahwa keputusan akan sangat bergantung pada data ekonomi yang akan datang.
Data penting yang ditunggu pasar adalah pertumbuhan ekonomi AS kuartal III dan indikator inflasi PCE September. Kedua data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan berikutnya, terutama setelah Warsh menyebut periode mendatang akan dipenuhi informasi ekonomi penting.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak membatasi penguatan emas. Brent naik 1,1% di tengah meningkatnya konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Serangan terhadap fasilitas energi Saudi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Analisis Newsmaker: Emas mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan sinyal bahwa kondisi keuangan mulai mengetat, tetapi kenaikan harga minyak kembali menjadi risiko karena dapat menjaga inflasi tetap tinggi. Fokus berikutnya tertuju pada data GDP dan PCE AS. Jika inflasi melunak, peluang emas melanjutkan penguatan semakin terbuka, sementara data yang kembali panas dapat memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat. PT Rifan Financindo Berjangka.
Sumber : NewsMaker
