Berita Emas 14 Juli 2026

Rifan Financindo

Rifan Financindo – Awas, Emas Terjebak Hormuz dan The Fed!
Harga emas masih tertahan di zona pelemahan setelah tekanan dari dua arah besar kembali muncul, yaitu ketegangan di Selat Hormuz dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Emas sempat turun ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah pada perdagangan Senin anjlok hampir 3%, penurunan terbesar dalam lebih dari dua pekan.

Tekanan utama datang dari keputusan Amerika Serikat yang kembali memberlakukan blokade laut menuju dan dari pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump juga menuntut penggantian biaya sebesar 20% atas kargo yang melintas di Selat Hormuz, di tengah serangan AS terhadap Iran yang sudah berlangsung selama tiga malam berturut-turut.

Kondisi ini membuat harga minyak kembali naik karena pasar khawatir pasokan dari kawasan Teluk Persia bisa terganggu. Bagi emas, kenaikan harga minyak bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal inflasi. Jika harga energi terus tinggi, tekanan inflasi bisa kembali meningkat dan membuat The Fed sulit melonggarkan kebijakan.

Kekhawatiran pasar semakin besar setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pernyataan ini membuat pelaku pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli naik menjadi sekitar 43%. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi beban bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Investor kini menunggu dua agenda penting dari Amerika Serikat, yaitu data inflasi konsumen bulan Juni dan testimoni pertama Kevin Warsh di hadapan Kongres sebagai Ketua The Fed. Jika data CPI lebih panas dari perkiraan atau Warsh memberi sinyal hawkish, emas berisiko kembali mendapat tekanan.

Pada perdagangan Asia, emas spot turun 0,6% ke level US$3.983,63 per troy ounce. Perak melemah 0,3% ke US$57,50 per ounce, platinum juga turun tipis, sementara palladium menguat. Untuk sementara, emas masih berada dalam posisi rentan selama harga minyak naik, dolar bertahan kuat, dan pasar semakin percaya bahwa The Fed bisa kembali menaikkan suku bunga.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Emas Turun Hingga 3% Ditengah Panasnya Konflim Timur Tengah
Harga emas anjlok tajam pada perdagangan Senin (13/7) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan mengaktifkan kembali blokade laut terhadap Iran. Pernyataan tersebut membuat harga minyak melonjak, memicu kekhawatiran inflasi baru, dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS bisa bertahan tinggi lebih lama.

Emas spot turun 3,1% ke level US$3.991,56 per troy ounce, menembus area psikologis US$4.000. Pelemahan ini menjadi tekanan untuk sesi kedua berturut-turut. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun 2,6% dan ditutup di level US$4.005,70 per troy ounce.

Tekanan terhadap emas muncul karena pasar melihat kenaikan harga minyak sebagai ancaman baru bagi inflasi. Trump mengatakan AS akan kembali menerapkan blokade laut terhadap Iran dan meminta penggantian biaya sebesar 20% atas seluruh kargo yang dikirim melalui Selat Hormuz, setelah Teheran mengklaim telah menutup jalur tersebut. Harga minyak langsung melonjak sekitar 5% merespons kabar ini.

Kenaikan minyak berisiko mendorong biaya energi dan transportasi di seluruh ekonomi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, bank sentral seperti The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang 71% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Ekspektasi ini membuat tekanan terhadap emas semakin besar, terutama jika dolar AS dan imbal hasil obligasi ikut menguat.

Pelaku pasar kini menunggu testimoni pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres pada Selasa. Selain itu, data inflasi penting AS seperti Consumer Price Index dan Producer Price Index juga akan menjadi perhatian utama pekan ini. Jika data inflasi lebih panas dari perkiraan, emas berisiko melanjutkan pelemahan.

Secara teknikal, tembusnya area US$4.000 menjadi sinyal penting bagi pasar emas. Jika tekanan jual terus berlanjut, analis memperkirakan emas berpotensi bergerak menuju area US$3.800 terlebih dahulu. Namun, jika tekanan semakin kuat, target penurunan berikutnya bisa terbuka ke sekitar US$3.500 dalam jangka lebih panjang.(yds) Rifan Financindo.

Sumber : Newsmaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.