
Rifan Financindo – Guncangan Emas Belum Usai, Gold Turun Lagi!
Harga emas melemah untuk hari ketiga setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran. Eskalasi ini memperbesar risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah, sekaligus menjaga kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan arah suku bunga global.
Emas sempat turun hingga 1,2% ke dekat US$4.024/oz, memperpanjang penurunan tajam 4,4% pada sesi sebelumnya, sebelum memangkas sebagian pelemahan. Pada pukul 07.50 waktu Singapura, emas spot turun 0,6% ke US$4.062,76/oz. Perak juga melemah 1,3% ke US$62,55/oz, sementara platinum turun dan palladium relatif stabil.
Tekanan muncul setelah militer AS menembakkan misil ke beberapa target di Iran. Presiden Donald Trump menuduh Teheran terlalu lama menunda pembicaraan damai sementara, sementara Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz untuk seluruh kapal. Kondisi ini membuat pasar kembali sulit membaca arah konflik dan prospek pasokan energi global.
Bagi emas, konflik kali ini tidak langsung menjadi dorongan safe haven. Pasar justru fokus pada dampak energi terhadap inflasi. Perang yang sudah masuk bulan keempat telah mengganggu arus energi melalui Hormuz, mendorong harga minyak naik, dan memperbesar peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali menaikkannya.
Data inflasi AS juga menambah tekanan. CPI Mei naik 0,5% dari bulan sebelumnya dan 4,2% secara tahunan, laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Karena emas tidak memberikan bunga, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat daya tariknya melemah dibanding aset berbasis imbal hasil.
Secara teknikal, emas semakin rentan setelah turun di bawah moving average 200 hari dan menembus area penting US$4.100/oz. Penurunan ini memicu aksi jual tambahan dari investor institusional. Namun pelemahan terbaru lebih banyak mencerminkan pengurangan risiko dan penyesuaian portofolio, bukan perubahan total terhadap posisi emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id
Emas Jatuh 4%, Ada Apa di Balik Tekanan Ini?
Harga emas turun tajam pada Rabu (10/6), tertekan oleh penguatan dolar AS, pelemahan saham berisiko, dan eskalasi baru antara Amerika Serikat dan Iran. Emas spot melemah 4,4% ke US$4.071,40/oz, sementara kontrak berjangka emas turun 4,5% ke US$4.095,00/oz.
Tekanan muncul setelah harapan terhadap kesepakatan damai di Timur Tengah kembali melemah. Militer AS melancarkan serangan “self-defense” terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan Washington akan merespons insiden jatuhnya helikopter AS yang sebelumnya disebut sedang berpatroli di sekitar Selat Hormuz. Iran sendiri belum mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Komentar Trump kemudian memperkuat ketidakpastian. Ia mengatakan Iran terlalu lama menegosiasikan kesepakatan dan “harus membayar harga”. Pernyataan itu membuat pasar menilai peluang gencatan yang stabil makin sulit, terutama setelah Trump kembali menegaskan bahwa AS siap menyerang Iran lebih keras jika proses kesepakatan tidak segera bergerak.
Bagi emas, konflik geopolitik kali ini tidak otomatis menjadi dorongan safe haven. Pasar justru lebih fokus pada dampak energi dan inflasi. Penutupan Selat Hormuz masih menjadi sumber kekhawatiran karena jalur ini penting bagi pengiriman minyak global. Jika harga minyak terus naik, inflasi dapat bertahan tinggi dan membuat The Fed lebih sulit melonggarkan kebijakan.
Data CPI AS Mei memberi sinyal campuran. Inflasi utama naik 0,5% MoM dan 4,2% YoY, sesuai perkiraan, tetapi menjadi laju tahunan tertinggi sejak April 2023. Core CPI naik 0,2% MoM dan 2,9% YoY, sedikit lebih lunak dari estimasi bulanan. Namun lebih dari separuh kenaikan inflasi utama berasal dari energi, dengan harga energi naik 23,5% YoY dan bensin melonjak 40,5% YoY.
Secara fundamental, tekanan emas datang dari kombinasi dolar lebih kuat, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian suku bunga Fed. Meski data core CPI yang lebih jinak sempat mengurangi sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga, lonjakan energi akibat konflik tetap menjaga risiko inflasi tetap hidup. Kondisi suku bunga tinggi biasanya membebani emas karena logam ini tidak memberikan bunga atau dividen.
Untuk saat ini, emas masih berada dalam fase defensif. Pasar akan memantau perkembangan konflik AS–Iran, arus kapal melalui Selat Hormuz, arah harga minyak, pergerakan dolar AS, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed setelah data inflasi terbaru.(Arl)* Rifan Financindo.
Sumber : NewsMaker
