Berita Emas 25 September 2026

PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo – Harga emas (XAU/USD) kembali melemah pada perdagangan Jumat (25/9) pagi dengan bergerak di sekitar US$4.267 per troy ounce. Penurunan ini terjadi karena meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh Federal Reserve tahun ini. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi faktor utama yang membatasi pergerakan emas.

Tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga minyak kembali menguat akibat belum adanya perkembangan signifikan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga pasar memperkirakan The Fed perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menjaga tekanan harga tetap terkendali. Selain itu, imbal hasil obligasi AS tenor panjang kembali naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, membuat aset berbasis imbal hasil menjadi lebih menarik dibandingkan emas.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober berada di kisaran 67,5%, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya. Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal hawkish, dengan menilai tekanan inflasi masih tinggi dan kebijakan tambahan mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, permintaan emas fisik dari China menjadi salah satu faktor pendukung utama pasar emas. Data menunjukkan pembelian emas China tetap kuat, didukung oleh peningkatan permintaan domestik dan pembelian dari bank sentral yang kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Analisis Newsmaker:

Pergerakan emas saat ini berada dalam tekanan karena kombinasi dolar kuat, yield tinggi, dan ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih agresif. Namun, dukungan dari permintaan China dan risiko geopolitik masih menjadi faktor penahan pelemahan. Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada pidato pejabat The Fed serta perkembangan hubungan AS-Iran yang dapat memengaruhi arah inflasi dan kebijakan moneter. (asd)

Harga emas melemah di tengah tekanan dari penguatan dolar AS pada Kamis (24/9), kenaikan imbal hasil obligasi, serta lonjakan harga energi yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Harga emas (XAU/USD) bergerak di sekitar US$4.274 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat turun menuju area US$4.244 per troy ounce. Pelemahan ini memperpanjang penurunan setelah emas terkoreksi pada perdagangan sebelumnya akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi.

Tekanan terhadap emas meningkat setelah harga minyak kembali menguat di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan belum adanya kepastian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali jalur energi melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sehingga pasar kembali memperkirakan The Fed perlu mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan melakukan kenaikan tambahan.

Pergerakan emas dalam beberapa pekan terakhir sangat dipengaruhi oleh prospek suku bunga The Fed. Aset emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kehilangan daya tarik ketika biaya pinjaman meningkat dan imbal hasil obligasi naik. Saat ini investor terus mencermati apakah tekanan energi akan menjadi faktor yang membuat inflasi kembali sulit turun menuju target 2% The Fed.

Selain emas, pasar obligasi AS juga mengalami tekanan dengan kenaikan imbal hasil Treasury tenor panjang ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama akibat kombinasi harga energi, permintaan ekonomi yang kuat, dan risiko geopolitik.

Dari sisi pasar mata uang, indeks dolar AS kembali menguat karena investor mencari aset aman sekaligus memperhitungkan peluang kebijakan The Fed yang lebih agresif. Penguatan dolar menjadi faktor tambahan yang membatasi potensi kenaikan emas karena membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Analisis Newsmaker: Emas saat ini menghadapi tekanan ganda dari dua arah, yaitu ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dan kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik. Namun, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor pendukung bagi emas sebagai aset lindung nilai. Arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan hubungan AS-Iran, pergerakan minyak, serta data ekonomi AS yang dapat memengaruhi keputusan The Fed. PT Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.